MEDAN | 1kabar.com
Tokoh Senior Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Provinsi Sumatera Utara, Japorman Saragih menyebut Partainya akan menghadapi tantangan yang sangat berat dalam Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun 2029 mendatang. Ia memprediksi munculnya kekuatan kapital dan oligarki yang bisa mengubah konstelasi Demokrasi dan Politik di Indonesia.
Kekuatan modal serta jaringan oligarki akan dimanfaatkan untuk mendukung sejumlah partai politik masuk ke Senayan dan untuk memenangkan Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres). Ideologi dan Platform Partai sudah dinomor duakan yang berimbas dengan terjadinya rekayasa demokrasi, Rabu (01/10/2025).
Namun ia optimis praktik kapitalis oligarki tersebut tidak akan meruntuhkan kepercayaan Rakyat terhadap Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Sebab, dibawah kepemimpinan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Ibu Megawati Soekarnoputri dan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto soliditas partai tetap terjaga dan komit dengan perjuangan bersama wong cilik.
“Untuk menjawab tantangan besar itu tentu salah satu jawabannya adalah menghidupkan dan membangkitkan kembali semangat kerjasama, soliditas, ke gotong royongan, dan militansi seperti yang terjadi di Tahun 96-97,” kata Japorman Saragih saat ditanya Jurnalis 1kabar.com, di Medan, Rabu (01/10/2025).
Ia melihat kesadaran akan semangat ke gotong royongan, soliditas, serta militansi di Tahun 96-97 telah muncul secara alami baik di tingkat elit Partai Pusat hingga Daerah. Semangat inilah menurutnya yang harus dihidupkan dan lebih diorganisir untuk menjadi kekuatan diatas kaki sendiri bagi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.
Japorman mengingatkan kondisi disekitar Tahun 96-97-98, dimana Partai Demokrasi Indonesia PDI Pro Mega berdiri yang kemudian menjadi PDI Perjuangan. Saat itu partai ini dianggap seperti penyakit kusta yang dijauhi banyak orang.
Hanya orang-orang pemberani, militan dan punya prinsip menegakkan demokrasi serta nilai-nilai kebenaran yang mau bergabung menjadi kader. Tidak takut dengan intimidasi, teror serta ancaman ditengah kuatnya kekuasaan orde baru.
Berdiri diatas kaki sendiri (Berdikari) menurut Japorman adalah warisan dari Bung Karno yang telah teruji dan terus hidup dalam perjalanan perjuangan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Berdiri diatas kaki sendiri seharusnya juga menjadi pegangan dan panduan oleh pemimpin negara saat ini.
“Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan harus berdiri diatas kaki sendiri karena kita saat ini tidak tau siapa kawan dan lawan. Tidak tau siapa berbuat apa dan untuk siapa,” tegasnya.
Di tengah kondisi Negara yang tidak baik-baik saja itu, Japorman berharap seluruh kader menyatukan potensi dan satu komando. Agar kader pejuang dengan rekam jejak militansi yang sudah teruji menjadi pimpinan-pimpinan partai, bukan kader penumpang apalagi penikmat.(***)




