BeritaBerita TerkiniDaerahNasionalPeristiwa

Biaya Rp. 6 Juta Per Hari Disorot, SATMA AMPI Madina Desak Evaluasi Pengelola MBG di Bukit Malintang

275
×

Biaya Rp. 6 Juta Per Hari Disorot, SATMA AMPI Madina Desak Evaluasi Pengelola MBG di Bukit Malintang

Sebarkan artikel ini

Mandailing Natal | 1kabar.com

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bukit Malintang kembali menuai sorotan publik. Kali ini, kritik datang dari Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (SATMA AMPI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Bendahara Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (SATMA AMPI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Muhammad Saleh, secara terbuka mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) dan pihak terkait agar mengevaluasi bahkan memutus kerja sama dengan Yayasan Pengelola Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak patuh standar operasional prosedur (SOP).

Desakan tersebut muncul menyusul klarifikasi pihak Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak sejalan dengan hasil temuan Puskesmas setempat, khususnya terkait penggunaan air dalam aktivitas dapur program.

Baca juga Artikel ini  Gempa Tektonik M 3,9 Guncang Bener Meriah Pagi Hari, Warga Sempat Panik Keluar Rumah

“Jika klarifikasi pengelola tidak sejalan dengan temuan Puskesmas, ini sudah cukup menjadi alasan kuat untuk mengevaluasi dan memutus kerja sama. Program sebesar Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dijalankan dengan standar yang abu-abu,” tegas Muhammad Saleh dalam keterangan tertulisnya sebagaimana yang diterima Jurnalis 1kabar.com, Kamis (05/02/2026).

Menurutnya, ketidaksinkronan antara laporan pengelola dan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan merupakan alarm serius terhadap kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di lapangan.

Saleh juga mengungkapkan bahwa biaya Operasional Yayasan Pengelola Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut mencapai Rp. 6 Juta per hari. Namun, kondisi faktual di dapur dinilai belum mencerminkan penerapan SOP yang layak dan profesional.

“Anggaran operasional mencapai Rp. 6 Juta per hari, tapi faktanya masih ditemukan dugaan pelanggaran SOP. Ini sangat ironis dan patut dipertanyakan ke mana efektivitas anggaran tersebut dialokasikan,” ujarnya.

Baca juga Artikel ini  Kajati Sumut Lantik Aspidsus, Aspema, dan Kajari Medan, Dr. Harli Siregar : "Laksanakan Tugas dengan Kinerja Nyata, Keberanian Moral, Kedisiplinan, dan Komitmen Bersama Menjaga Marwah Institusi"

Ia menilai, dengan anggaran sebesar itu, kebutuhan mendasar seperti air bersih, sanitasi dapur, serta standar keamanan pangan seharusnya sudah terpenuhi tanpa menimbulkan polemik publik.

Lebih jauh, Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (SATMA AMPI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan anak-anak penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dikompromikan dengan alasan teknis maupun administratif pengelola.

“Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (SATMA AMPI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tidak menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Yang kami tolak adalah pengelolaan yang tidak profesional dan tidak patuh SOP. Jika yayasan tidak mampu menjalankan standar, maka kerja sama wajib dihentikan dan diganti,” tegas Saleh.

Baca juga Artikel ini  Latihan Kader II HMI Deli Serdang, Wakil Bupati Deli Serdang : Kemampuan Berpikir Kreatif dan Inovatif Jawab Tantangan Zaman

Sebagai langkah konkret, Satuan Mahasiswa Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (SATMA AMPI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mendesak Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Inspektorat Daerah Kabupaten Mandailing Natal untuk segera melakukan audit menyeluruh dan transparan terhadap pengelolaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bukit Malintang.

Organisasi kepemudaan tersebut menyatakan akan terus mengawal Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar benar-benar berjalan sesuai tujuan awal, transparan, serta menjamin kesehatan dan keselamatan peserta didik sebagai penerima manfaat utama.

(Magrifatulloh)