Opini

Mari Hijrah dan Taubat Yuk..!?

334
×

Mari Hijrah dan Taubat Yuk..!?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Chaidir Toweren

Aceh (Langsa)

Disaat aku sedang membrowsing di gogle, terbaca sebuah judul artikel dalam sebuah tulisan, “Hijrah tanpa nanti, Taubat tanpa Tapi” sebuah tulisan yang pernah diaploud pada tanggal 24 Agustus 2020 lalu, sayang nya tulisan tersebut tidak dapat di browsing/buka lagi, mungkin karena apa, sehingga aku tidak bisa tahu siapa pengarang dan apa isi tulisan tersebut.

Tetapi anehnya tulisan tersebut seolah-olah menghipnotis aku untuk mencari tahu akan makna Hijrah tanpa nanti, taubat tanpa tapi tersebut.

Hal yang paling utama yang aku dapatkan adalah panggilan hijrah seolah mengetuk hati. Hijrah dari sebuah kesadaran atau sadar akan sebuah kelalaian yang selama ini terus berlanjut berjalan seolah menjadi sebuah kesombongan diri.

Aku harus bisa sadar dalam memahami arti hakikat kehidupan, sadar bahwa ternyata selama ini aku berada dalam sebuah buaian mimpi semu. Kalimat Hijrah tanpa nanti, Taubat tanpa tapi tersebut seolah mengetuk pintu hati untuk bangun dan bangkit, agar melakukan hijrah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Bicara tentang hijrah, sama halnya seperti kita berbicara tentang kembali pulang ke rumah asal kita, atau bisa dikatakan kembali kepada fitrah seorang manusia.

Hijrah juga bukan sebuah perbuatan yang dapat dilakukan secara instan. Butuh sebuah proses, bahkan butuh sebuah perjuangan bahkan terkadang dengan pengorbanan sehingga ada sebagian pendapat mengatakan, berhijrah membutuhkan sebuah kesabaran dan kesadaran yang tinggi.

Allah Ta’la berfirman : “sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupi pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar : 10).

Nah, bila niat sudah kuat untuk memulai hijrah, hal pertama yang harus kita lakukan adalah niat atau sebuah kemauan yang kuat dan semangat. Kedua hal tersebut perlu disatukan sebab jika hanya memiliki niat yang kuat tanpa semangat, maka hal yang terjadi adalah sebuah ketidak seimbangan akan terjadi.

Ada sebuah tulisan yang sempat saya kutip, bahwa ada 10 Nabi yang menginterpretasikan hijrah sebagai taubat, sebagaimana dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW lainnya : “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa”. (HR.Imam Ahmad)

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang benar-benar suci dari segala dosa. Setinggi apapun jabatanmu kini, kamu tak lepas dari dosa. Baik itu dosa kecil ataupun dosa besar. Dan segala dosa yang pernah diperbuat oleh manusia tentu saja bisa diampuni oleh Tuhan.

Penulis hanya ingin mendedikasikan tulisan ini, untuk sebuah proses yang harus dilakukan oleh penulis sendiri. Karena dalam hidup kita tidak akan tahu seberapa besar kesalahan yang telah kita buat. Selagi masih ada kesempatan, kesehatan dan umur tentu alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan diri untuk menjadi yang lebih baik lagi untuk persiapan disebuah kehidupan yang abadi di masa yang mendatang. Penulis juga tidak bermaksud mengurui, tapi berharap tulisan ini menjadi motivasi agar penulis menjadi sebuah pribadi yang lebih baik karena semua kita punya masa lalu, semua kita punya penilaian sisi baik dan buruk baik di mata Allah SWT maupun di mata manusia. Kesalahan bisa saja dilakukan dengan sengaja maupun tanpa di sengaja, semoga bermanfaat bagi penulis dan bermakna bagi pembaca.