Berita

Paulus Gulo SH. MH. Ketua DPD GMNI Sumut mengecam politik Dinasti yang mencederai demokrasi

220
×

Paulus Gulo SH. MH. Ketua DPD GMNI Sumut mengecam politik Dinasti yang mencederai demokrasi

Sebarkan artikel ini

Sumut | 1kabar.com

Situasi Republik Indonesia akhir-akhir ini sangat memprihatinkan dimana seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat menyuarakan menolak politik Dinasti karna hal tersebut dapat mencederai demokrasi (minggu 01/8 2024)

Paulus Gulo SH. MH. Tokoh pemuda Sumatra Utara dan juga selaku Ketua DPD GMNI Sumut pada awak media
angkat bicara soal usai Bobby nasution mendaftar di KPU Sumut sebagai calon gubernur beberapa hari yang lalu, yang mana Bobby nasution adalah wali kota Medan Sumatra Utara dan juga sekaligus menantu dari bapak Presiden Republik Indonesia ir. H. Jokowi dodo
Saya mengkuatirkan pilgub kali ini akan tidak sesuai

Baca juga Artikel ini  Polairud Polres Serdang Bedagai Peduli Anak Yatim, Wujud Polisi Sebagai Problem Solver

Jika di bandingkan dengan calon gubernur yang lain sudah jelas Extabilitas politik bobby nasution sangat tinggi,
Selain sosok diri sendiri sebagai wali kota medan, juga adanya pandangan lain yaitu sosok yang di lihat sebagai menantu dari presiden Republik Indonesia

Baca juga Artikel ini  Pendaftaran Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Maimul Mahdi - Nurzahri  Ke KIP Langsa di Hadiri Ribuan Pendukung

Saya mengharapkan Pemilihan gubernur Sumatera Utara kali ini tidak adanya kekuatan intervensi dari pihak mana pun, sekali pun yang mencalonkan diri adalah menantu presiden Republik Indonesia itu sendiri… Ucap Paulus

Saya ingatkan bahwa demokrasi bukan mainan belaka yang bisa di obrak-abrik dengan menggunakan abuse of power.. Saya ingatkan kepada seluruh jajaran pemerintah, TNI polri dan seluruh kesatuan jajaran nya untuk bersifat netral agar tercipta pemilu yang damai dan akuntabel

Baca juga Artikel ini  Jaga Keseimbangan Ekosistem Babinsa Peliatan Dukung penebaran Benih Ikan Nila Di Sungai

Pada akhir kata Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata lawan.. Tutupnya

Perilis ( JH)