Oleh : Said Machdy Sahab
1kabar.com
Zeonisme, jika dimaknai sebagai bentuk idealisme atau nasionalisme ekstrem yang mengutamakan identitas tertentu secara berlebihan, bisa menjadi metafora untuk menilai bagaimana kita memperlakukan moralitas, perilaku, dan kesadaran kemanusiaan kita. Dalam konteks ini, pertanyaanmu mungkin merujuk pada seberapa egois atau eksklusif kita dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut.
1. Moralitas:
Jika moralitas kita hanya melayani kelompok tertentu atau individu tertentu tanpa memperhatikan prinsip universal seperti keadilan dan keseimbangan, maka kita mungkin terjebak dalam “zeonisme moral”. Misalnya, membenarkan tindakan buruk hanya karena dilakukan oleh “orang kita” adalah bentuk moralitas yang sempit.
2. Perilaku:
Dalam perilaku sehari-hari, zeonisme bisa tercermin melalui eksklusivitas atau superioritas. Apakah kita memperlakukan orang lain dengan hormat dan empati, ataukah kita merasa kelompok kita lebih benar, lebih unggul, dan lebih layak mendapatkan perlakuan khusus?
3. Kesadaran Kemanusiaan:
Kesadaran kemanusiaan yang sehat melibatkan kemampuan untuk melihat penderitaan, kebutuhan, dan hak-hak orang lain tanpa diskriminasi. Jika kita hanya peduli pada penderitaan yang “mirip dengan kita” dan mengabaikan yang lain, maka itu adalah bentuk pengerdilan kesadaran kita sebagai manusia.
Refleksi darai pertanyaan ini adalah dimana kita melihata diri kita lebiah dalam pada prilaku kita dalam menghadapi orang lain atas kecendrungan di bawa ini
Apakah kita sering menilai orang berdasarkan identitas, kelompok, atau latar belakang mereka, dan bukan dari tindakan atau nilai yang mereka bawa?
Apakah kita mempraktikkan nilai-nilai universal seperti kasih sayang, empati, dan keadilan, ataukah kita lebih fokus pada kepentingan diri dan kelompok?
Mengurangi “zeonisme” dalam aspek-aspek ini membutuhkan introspeksi, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan upaya untuk mengakui bahwa semua manusia memiliki nilai yang sama terlepas dari perbedaan mereka.





