Berita TerkiniPerusahaan

Tarif Angkutan Melonjak Pasca Banjir dan Longsor, Warga Bireuen–Takengon Kian Terhimpit

136
×

Tarif Angkutan Melonjak Pasca Banjir dan Longsor, Warga Bireuen–Takengon Kian Terhimpit

Sebarkan artikel ini
Caption : salah satu jenis angkutan umum tujuan Bireuen - Bener Meriah - Takengon

BIREUEN | 1kabar.com

Pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan berat. Kali ini, lonjakan tarif angkutan umum pada trayek Bireuen–Takengon dan Bener Meriah menjadi keluhan utama para penumpang.

Tarif angkutan umum yang sebelumnya berkisar Rp50.000 per orang, kini melonjak tajam menjadi Rp100.000 hingga Rp120.000 per orang. Kenaikan sebesar 100 hingga 150 persen ini dinilai sangat memberatkan, terlebih jarak tempuh Bireuen–Takengon atau Bener Meriah yang hanya sekitar 100 kilometer.

Baca juga Artikel ini  Publik Pertanyakan Transparansi Retribusi Lapak PKL di Kota Juang

Mayoritas pengguna jasa angkutan umum di lintasan tersebut merupakan pekerja harian, pedagang kecil, serta masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada mobilitas antarwilayah. Banyak di antara mereka bekerja di Takengon dan Bener Meriah, sementara domisili berada di Bireuen dan sekitarnya.

“Kenaikan ongkos ini sangat tidak masuk akal di tengah kondisi masyarakat yang baru saja terdampak bencana. Kami bukan wisatawan, kami pekerja yang harus bolak-balik untuk mencari nafkah,” ujar salah seorang penumpang.

Baca juga Artikel ini  Arief Martha Rahadyan: Selamat Hari Lingkungan Hidup Nasional

Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat sebagian besar wilayah Aceh baru saja diterpa banjir dan tanah longsor, yang tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan perekonomian masyarakat. Dalam situasi pemulihan pascabencana, lonjakan tarif transportasi justru menambah beban hidup rakyat.

Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera turun tangan. Penertiban tarif angkutan umum dinilai mendesak dilakukan melalui koordinasi dengan organisasi angkutan darat (Organda) serta Dinas Perhubungan, agar tidak terjadi praktik kenaikan

Baca juga Artikel ini  Setelah Lebih dari 24 Jam Pencarian Tanpa Henti, Dua Bocah Perempuan yang Hilang Terseret Arus Sungai di Perbatasan Desa Batang Kuis dan Desa Sei Rotan Ditemukan dalam Keadaan Tidak Bernyawa.!.

sepihak yang merugikan penumpang.
Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada perbaikan infrastruktur pascabencana, tetapi juga memastikan keadilan akses transportasi bagi masyarakat. Tanpa pengawasan dan ketegasan, rakyat kecil dikhawatirkan terus menjadi pihak yang paling dirugikan dalam situasi krisis yang belum sepenuhnya pulih.