TAPANULI TENGAH | 1kabar.com
Deli Serdang menjadi salah satu dari beberapa Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), yang dilanda bencana banjir bandang dan longsor beberapa waktu lalu. Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi menyebabkan sejumlah kerusakan, salah satunya lahan pertanian.
Pada Groundbreaking Rehabilitasi Lahan Sawah Terdampak Bencana yang dipusatkan di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), yang dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Deli Serdang, Lom Lom Suwondo SS, Kamis (15/01/2026), Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu), H. Surya, BSc menjelaskan, untuk Kabupaten Deli Serdang, kerusakan lahan yang terjadi sebanyak 6.987 hektare (Ha) dengan kategori ringan, 2.084 hektar (Ha) rusak sedang. Sedangkan kerusakan berat nihil.
Di kegiatan yang menjadi titik balik ketahanan pangan di Sumatera Utara itu, Wagubsu menerangkan, total kerusakan lahan sawah di Sumatera Utara mencapai 37.318 Ha, dengan rincian 22.274 Ha rusak ringan, 10.690 Ha rusak sedang, dan 4.354 Ha rusak berat. Khusus di Tapanuli Tengah, kerusakan mencapai 3.205 Ha dengan berbagai kategori.
“Kecamatan Tukka adalah bagian penting dari sentra pertanian rakyat. Gangguan pada lahan dan irigasi disini menurunkan produktivitas dan pendapatan petani secara drastis. Oleh karena itu, groundbreaking ini adalah komitmen nyata untuk memulihkan kembali fungsi lahan dan sistem irigasi,” ujar Wagubsu diacara yang diikuti secara virtual oleh Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh tersebut.
Wagubsu mengajak masyarakat untuk aktif dalam program rehabilitasi ini. Pembangunan pertanian bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal kebersamaan dan gotong royong masyarakat dalam menjaga apa yang sudah dibangun.
Sementara itu, Mentan, Andi Amran Sulaiman dalam arahannya menyatakan, Pemerintah Pusat bergerak cepat memberikan bantuan total Rp. 78,5 Miliar untuk pemulihan pertanian di tiga Provinsi (Aceh, Sumut, dan Sumbar).
Bantuan tersebut meliputi pupuk, benih, alsintan, hingga kebutuhan pokok masyarakat. Mentan menekankan sistem pengerjaan rehabilitasi harus menggunakan skema Padat Karya.
“Saudara-saudara kita yang punya sawah yang bekerja (Rehabilitasi), kemudian upahnya dibayar oleh Pusat. Kami ingin masyarakat punya lapangan kerja di tengah masa sulit ini,” tegas Mentan.
Mentan juga memerintahkan jajarannya untuk tetap berada di lokasi hingga pemulihan tuntas.
“Jangan pernah kosongkan personel di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Saya tugaskan direktur dan tim untuk standby. Tolong dipercepat, saudara kita butuh uluran tangan segera,” pungkasnya.
Sebelumnya, Wamendagri, Bima Arya Sugiarto memberikan apresiasi atas langkah sigap Kementerian Pertanian dan sinergi pemerintah daerah. Menurutnya, langkah ini berdampak signifikan pada stabilitas nasional dan daerah.
“Pak Mentan melaksanakan hal yang sangat signifikan dalam pemulihan lahan pertanian di Sumatera. Kita apresiasi kegiatan ini karena tentunya akan berdampak positif bagi Indonesia dan juga pemerintah kabupaten. Kita harapkan pemulihan ini berjalan cepat, terutama pada sektor pertanian agar membawa keberkahan bagi masyarakat,” tutur Wamendagri.
Groundbreaking tersebut menandai dimulainya perbaikan besar-besaran terhadap infrastruktur tani yang rusak, termasuk penyediaan traktor roda empat, rotavator, hingga pembangunan kembali jalan usaha tani di wilayah terdampak.(Zulkarnain Lubis)





