Langsa | 1kabar.com
Terkait adanya pernyataan bahwa organisasi kemasyarakatan Musyara Gayo kota Langsa terjadi dualisme kepemimpinan setelah pelantikan ketua baru terpilih Sukri MS di Aula Balai Desa Gampong Pondok Pabrik kecamatan Langsa Lama kota Langsa, pada Minggu 20/8/2023, beberapa awak media mencoba mengkonfirmasi Chaidir Toweren selaku ketua Panitia pelantikan tersebut, Senin 21/8/2023 melalui pesan whasapps pribadi, dikarenakan beliau sedang dalam perjalanan menuju Jakarta.
Dalam jawaban yang disampaikan, Chaidir menyatakan bahwa setelah terpilih dalam Musyawarah Besar (Mubes) Organisasi Masyarakat (Ormas) Musara Gayo (Musga) Kota Langsa di aula SMPN 6 Langsa, Minggu 25 September 2022 yang lalu. Menurutnya sudah tidak ada lagi namanya dualisme, kalau seandainya pemilihan tersebut bermasalah mengapa tidak ada gugatan, padahal rentang waktu dari mubes dan pelantikan cukup lama memakan waktu hampir 1 tahun lamanya.

“Menurut hemat saya, tidak perlu lah saling klaim mengklaim, toh ini sebuah paguyuban yang tujuannya sebagai sarana silaturahmi sesama masyarakat gayo perantau di kota Langsa. Bukan organisasi politik yang memiliki kepentingan, walaupun tak tertepis sebuah organisasi akan terbawa ke ranah politik.”
Chaidir menambahkan, pemilihan sudah usai, yang kalah tidak perlu berkecil hati dan yang terpilih juga jangan merasa jumawa. Contohlah kepemimpinan Joko Widodo Presiden Republik Indonesia, tidak merasa jumawa ketika terpilih, tetapi berupaya untuk menyatukan demi kemajuan bangsa ini, begitu juga sebuah panutan tokoh bangsa kita Prabowo Subianto dengan berbesar hati mengakui kekalahan dan bergabung ke Pemerintahan.
Kedua peristiwa tersebut menjadi catatan perjalanan sejarah bangsa ini yang patut kita teladani. Karena dalam sebuah kontestasi tentu harus ada yang kalah dan menang, tidak mungkin semua menang dan tak mungkin semua kalah. Dan yang terjadi hari ini juga menjadi sebuah catatan sejarah organisasi kemasyarakatan Musara Gayo (Musga) di kota Langsa secara khusus dan Aceh secara umum, jelasnya.
Mari kita kedepankan budaya persatuan dan malu yang selama ini menjadi budaya kita masyarakat gayo. Saya masih ingat amanat Azman MA, SH, MH ketua petue (ketua dewan penasehat) Musara Gayo saat pidato beliau di pelantikan ketua Musara Gayo kota Langsa bahwa Musara Gayo (Musga) ini adalah untuk tempat orang banyak khususnya orang gayo, untuk itu marilah sama-sama kita membangun dan membesarkan Musga bersama-sama.
Bahkan Sukri MS, sebagai ketua yang baru saja dilantik, saat memberikan pidato perdananya, mengajak semua untuk bersatu, Musga ini milik bersama bukan perseorangan, untuk itu beliau sangat butuh masukan dan kritik serta saran dari seluruh masyarakat Gayo, agar organisasi ini dapat menjadi besar dan menjadi salah satu organisasi yang diperhitungkan, mampu sama dengan organisasi paguyuban-paguyuban lainnya. (Fatur)





