BeritaBerita TerkiniDaerahNasionalPeristiwa

Peringati May Day 2026, Massa Buruh bersama Mahasiswa Gelar Aksi Unjuk Rasa di Jalan Balai Kota Medan : “Lawan Kapitalisme, Pendidikan Gratis Adalah Kedaulatan Rakyat”

46
×

Peringati May Day 2026, Massa Buruh bersama Mahasiswa Gelar Aksi Unjuk Rasa di Jalan Balai Kota Medan : “Lawan Kapitalisme, Pendidikan Gratis Adalah Kedaulatan Rakyat”

Sebarkan artikel ini

MEDAN | 1kabar.com

Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day 1 Mei 2026, ribuan massa yang tergabung dalam berbagai elemen organisasi menggelar aksi unjuk rasa di depan Lapangan Merdeka, Jalan Besar Simpang Empat Balai Kota, Kota Medan, Jumat (01/05/2026).

Aksi damai ini merupakan gabungan dari Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI), Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (AKBAR Sumut), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Barisan Demokrasi (BASDEM), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA Sumut), Serikat Petani Serdang Bedagai (SPSB), serta KSPPM Parapat.

Massa berkumpul mulai pukul 10.00 WIB dititik kumpul Masjid Raya Al-Mashun, kemudian bergerak menuju titik utama di Pertigaan Grand City Hall dan depan Balai Kota Medan dengan membawa berbagai spanduk dan poster tuntutan.

•Tema Besar : Lawan Sistem yang Menindas.

Dalam orasinya, koordinator aksi unjuk rasa, Agus Sinaga dari Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat Sumatera Utara (AKBAR Sumut), menegaskan tema besar yang diusung adalah “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme! Kesejahteraan Buruh, dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat.”

Baca juga Artikel ini  Arief Martha Rahadyan: Hari Buruh sebagai Titik Balik Kesadaran Sosial dan Ekonomi

Ia menilai bahwa sistem kapitalisme menjadi akar utama dari segala ketimpangan yang terjadi di masyarakat, tidak hanya menimpa kaum buruh tetapi juga petani.

“Lawan Kapitalisme! Hancurkan Kapitalisme! Imperialisme! dan Militerisme! Kesejahteraan Buruh, dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat. Karena sistem ini membuat hidup kita semakin miskin. Bukan hanya buruh, tetapi juga kaum tani yang kehilangan ruang hidupnya,” tegas Agus Sinaga.

•25 Tuntutan dan Kritik Sistem Kerja.

Dalam aksi unjuk rasa ini, massa menyampaikan total 25 tuntutan yang mencakup kebutuhan dasar pekerja dan rakyat, antara lain, yaitu :

– Mewujudkan upah dan kerja yang layak.

– Menghadirkan pendidikan gratis, demokratis, dan ilmiah.

Baca juga Artikel ini  Wali Kota Langsa Tanggapi Aksi Unjuk Rasa, Tegaskan Komitmen Transparansi Penyaluran Bantuan Banjir

– Menghentikan diskriminasi kerja terhadap kelompok rentan.

– Membentuk tim penetapan upah yang transparan dan melibatkan seluruh elemen buruh.

Salah satu pimpinan organisasi buruh, Mardina dari SPIN SPMS, menyoroti praktik kerja yang masih memprihatinkan. Ia menilai sistem outsourcing dan PHK sepihak telah memperbudak kaum buruh.

“Saya melihat kondisi buruh yang ada di Indonesia saat ini, masih banyak terjadi outsourcing, buruh dijadikan sebagai budak. Selain itu, banyak terjadi ketimpangan, mulai dari upah yang sangat rendah, hingga PHK yang dilakukan secara sepihak meskipun buruh tersebut mengabdi sampai tua,” ungkapnya.

Senada dengan itu, perwakilan FPBI, Kusno, menambahkan bahwa situasi buruh saat ini sangat memprihatinkan terkait jam kerja, fasilitas, dan kesejahteraan hidup yang belum terjamin.

•Mahasiswa : Bagian dari Tri Dharma Pengajian.

Keterlibatan mahasiswa dalam aksi unjuk rasa ini mendapat sorotan tersendiri. M. Raihan Zahrawi, Mahasiswa FISIP USU angkatan 2022 dari HMI, menyatakan bahwa kehadiran mereka adalah bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga Artikel ini  Peringati Hari Buruh 2026, Ribuan Massa yang Tergabung dalam Organisasi Buruh FPBI bersama AKBAR Sumut Gelar Aksi Unjuk Rasa di Jalan Balai Kota Medan, "Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme, Kesejahteraan Buruh, dan Pendidikan Gratis adalah Kedaulatan Rakyat"

“Mahasiswa harus belajar dari esensinya, karena dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi ada pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu, mahasiswa turut memperkuat masyarakat, terutama kaum buruh sebagai suara rakyat,” ujarnya.

Raihan juga menyoroti masih banyaknya pelanggaran seperti upah yang tidak layak, jam kerja berlebih, hingga buruh yang tidak dibayar saat lembur.

“Saat ini masih banyak persoalan seperti upah dan jam kerja yang tidak menyejahterakan, bahkan ada buruh yang tidak dibayar saat lembur, untuk itu mari jangan terlena atas semua tawaran dari kapitalisme,” tambahnya.

Lewat aksi unjuk rasa ini, mereka berharap pemerintah dapat memberikan advokasi hukum yang jelas serta menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada rakyat kecil, bukan kepada kepentingan modal semata.(news1kbr/1kbr/mdn-40)