OpiniPolitik

Politik Dagelan Ala +62

767
×

Politik Dagelan Ala +62

Sebarkan artikel ini

Bahasa Politik Dagelan merupakan analogi perpolitikan yang jauh panggang dari api, tujuannya hanya menguasai, mendominasi, menguras sumber daya bagi diri dan kroninya, yang melupakan bagi kesejahteraan rakyatnya sendiri.

Biasanya Politik Dagelan sarat dengan trik dan intrik yang berliku mbulet, mempertahankan status quo dan berbagai hak-hak istimewa kaum di zona nyaman. Rakyat megap-megap Bagai sesak napas pun tidak dihiraukan.

Semua dianggap biasa, dinilainya rakyat sudah terbiasa menderita. Politik Dagelan memamerkan berbagai kelucuan, keanehan hingga ketololan yang jauh dari logika, dari pikiran, perkataan, perbuatan nya penuh dengan kepura puraan, bak cerita telenovela yang menguras perhatian para kaum hawa tanpa memperdulikan efek dari cerita tersebut.

Baca juga Artikel ini  Pendekatan Lintas Sektoral Polsek Kotarih Guna Pastikan Pemilukada Damai

Memuakkan, membosankan, menjengkelkan membuat hati Panas, kecewa, malu, sedih semua menjadi satu, apa daya bagi rakyat terus dibuat merana hingga putus asa tak berdaya. Seakan penuh keseriusan dibalik canda tawa para yang berkuasa, melihat hasil sumber daya yang akan diterimanya. Penuh suka cita menari-nari di atas orang-orang yang menderita sengsara.

Hasutan-hasutan, taburan kebencian, adu domba, kekerasan menjadi unggulan untuk terus mempertahankan status quonya. Semu saja apa yg dikatakan nya, just lips service. Ngobos kata orang ngomong doang yg bikin bosan. Bagai berjas dasi baju resmi tapi lali ora kathokan.

Seakan berwibawa walau memalukan/ mempermalukan diri dan bangsanya. Dagelan-dagelan kebijakan seakan bertopeng bijaksana yg sebenarnya adalah tipuan-tipuan belaka.

Baca juga Artikel ini  Bobby Nasution Menantu Presiden Jadi Kader Partai Gerindra di Pilkada Sumut Tahun 2024, Partai Golkar Akan Berhitung Ulang

Lucu, wagu dan saru terus saja dikumandangkan tanpa ragu, tanpa rasa malu. Haru biru banyak orang mendengarnya, prihatin dibuatnya, kok ya ada orang seperti itu di era digital ini. Diakah digimon (digital monster) atau monster di era digital? Halus budi bahas, lembut tutur kata namun itu semua penuh dengan harga, harga yang harus ditanggung rakyatnya.

Politik Dagelan akan menginspirasi Dagelan politik. Dagelan sebagai lawakan lokal, kaum-kaum marginal menghibur diri. Mengisi waktu dengan grundelan, melawan kedzaliman dengan cara membuat plesetan/ menertawakan sang ndoro yang lali kathokan.

Baca juga Artikel ini  Jelang Pilkada Serentak Tahun 2024 Kabupaten Deli Serdang, Partai Golkar dan PDI Perjuangan Sudah Sehati, Usung Siapa.!!!.

Dagelan politik dilakukan dari menirukan suara, mematut gaya dan perilakunya, mengolah kata-kata busuknya menjadi sesuatu yg wangi walau sebenarnya wangi-wanginya kentut tetap bau juga.

Dagelan tidak selalu dengan suara atau kata-kata. Bisa juga dengan rekayasa gambar, poster dan grafis-grafis lainya yang sebenarnya menjungkir balikkan ketololan menjadi sesuatu kewarasan yang menyadarkan.

Dagelan politik merupakan perlawanan menyehatkan dan mewaraskan dengan cara membuat tertawa atau mentertawakan kegilaan-gilaan sebagai hiburan dengan harapan yang dikritik tidak marah namun mau berubah.

Diangkat dari Harian Terbit.co tahun 2016, buah karya Djoko Waluyo di editing kembali oleh Chaidir Toweren