BRASNEWS.NET | Gowa- Awal mula, keluarga yang tinggal di Pattallassang, sejumlah preman dan mereka masing-masing membawa benda tajam parang dan badik, dan kedatangan preman tersebut menanyakan soal kasebo yang terbuat dari kayu, preman menanyakan siapa yang kasi kita itu kasebo kayu.
Keluarga yang bernama tetta dg ngiri, mengatakan bahwa kasebo kayu tersebut, adalah keluarga yang bernama sijaya, itu kasebo kayu sijaya di kasi sama pemilik tanah yang bernama haji muslimin abd asis, yang lokasinya di malalang, tempat tinggalnya di pandang-pandang, dan sijaya pula kasi saya, dan preman pun mengatakan di mana alamat sijaya, keluarga tetta mengatakan rumahnya di sero, dekat rumah kama lurang dan di situla bertanya pasti di kenal.
Karna keluarga tetta panit, akhirnya menelpon, katanya sijaya ada banyak preman kerumah, ditanyakan soal kasebo kayu tersebut, hati-hati karna mereka mau kerumah disero datangi kamu, preman tersebut masing-masing membawa benda tajam.
Saya pada waktu itu, perjalanan pulang habis meliput sekitar jam 10 malam, tiba-tiba di dalam perjalan pulang kerumah hp saya berbunyi, dan saya berhenti sejenak, teryata telpon Tampa nama, dan saya angkat telpon tersebut, ini dengan siapa?, saya Arif, dari mana, dari limbung, ada bisa saya bantu?, iya ada?, tanah sengketa, dimana?, di limbunng mau di liput sertifikatnya, kalau bisa tau dari mana kita ambil nomor hp saya?, dari teman saya sendiri, orang itupun kita sijayaka?, iya, tinggal di mana?, saya tinggal di sero, kalau di sero di sekitar mana, sekitar rumahnya kama lurang , boleh kita ketemu?, di mana?, di ertasning, maaf ya?, saya tidak bisa, kalau mau ketemu di sero dirumah saya sekitar jam 10 pagi saya tunggu kita, kalau sero siapa nama panggilannya, sijaya.
Setelah itu saya lanjutkan perjalan pulang menuju kerumah, tiba-tiba juga istri saya menelpon, kata istri saya pak kita di mana?, saya di jalan menuju pulang kerumah, istri saya suaranya bergetar ketakutan, katanya jangan dulu pulang, kenapa, di depan rumah, banyak orang tidak di kenal, baru mereka semua masing-masing bawa benda tajam, kayanya preman pak, kata istri saya kayanya preman pak, iya jangan panit, dan kayanya dia juga telpon saya waktu dalam perjalanan pulang kerumah tadi, untung kita menelpon.
Lanjut: setelah istri saya menelpon, saya kepaccinongan kerumah peninggalan orang tua saya mengganti pakaian saya, setelah itu saya hubungi pemilik tanah haji muslimin dg sele, untuk konfirmasi soal kasebo kayu yang di beri oleh mereka, pertemuan saya talasalapan Makassar di warkop jam 12 malam, namun haji muslimin seakan-akan mau melepaskan dirinya soal kasebo kayu tersebut, tapi saya bilang sama haji muslimin, kalau ada nanti lukahku, kamu yang harus bertanggung jawab soal kasebo kayu tersebut.
Dan malam itu pun saya hubungi Bimmas tombolo, minta perlindungan atas adanya preman di kediaman saya, Bimmas pun merespon keluhan saya, dan di ajak saya ke kantor kecamatan, karna gabungan satuan tugas ada di sana sedang apel malam yang di pimmpin oleh bapak camat beserta jajarannya.
Sesampai di disana sama Bimmas tombolo, saya di persilahkan ketemu lansung lurah tombolo dan camat somba Opu dan jajarannya, yakni:
gabungan satuan tugas Kapolres Gowa.
Dan malam itu, sekitar setengah satu malam, saya menyampaikan soal adanya preman yang ada di rumah saya pada malam itu, akhirnya camat somba Opu dan jajaran dan satuan tugas polres Gowa, merespon pula keluhan saya soal preman bayaran itu.
Jamat somba Opu, agussalim s sos, memimpin apel malam pattroli, usayai apel camat dan rombongan lansung berangkat pattroli, diwilayah somba Opu, yaitu pertama lewat manggarupi lalu paccinongan dan terakhir Kel tombolo, yaitu sero, camat somba Opu, mengelilingi stapat-stapat mangga satu, sesampai di ujung timur sero, kendaraan pattroli tidak bisa masuk akibat Medan jalan tidak bisa di lewati akibat mobil sedan terlalu renda dan Ceger.
Camat agussalim s sos, jalan kaki bersama jajaran dan satuan tugas, untuk memantau dengan ada adanya preman yang mengganggu keamanan warganya.
Sesampai di rumah saya, camat somba Opu dan jajaran juga satuan gabungan Kapolres Gowa.
Namun sesampai dirumah saya bersama satuan tugas polres camat somba Opu, akhirnya preman tersebut sudah tidak ada dirumah wartawan.
Lanjut: DTT IPDA WAP, pimpinan pattroli bersama satuannya, mengatakan apa bila preman tersebut mau ketemu di polres saja, dan soal pertemuan jam 10 pagi dirumah anda batalkan saja, lebih baik dipolres saja.
Setelah itu camat somba Opu jajaran dan satuan tugas polres Gowa, kembali melanjutkan pattroli.
Lanjut: Esok harinya Sabtu dini hari sekitar jam 10 pagi, kami menunggu info dari preman bayaran tersebut, mereka tidak hadir, karna saya lama menunggu sekitar jam 11 pagi, akhirnya saya berangkat meninggalkan rumah, menuju Maros, untuk peliputan, di rumah haji Danial di alamat tellomposoe dusun palisi.
Sepulan dari peliputan di Maros, saya di infokan sama istri saya, bahwa sipreman datang pagi-pagi di rumah tetangga, yaitu: dg mile, preman tersebut, bertanya ke dg mile, siapa itu sijaya, apa kerjanya, kata dg mile, dia wartawan, asalnya dari mana?, kata dg mile, paccinongan Gowa.
Dg mile pun, bertanya kepreman tersebut, kenapa dengan sijaya ditanyakan memangnya kenapa?, itu, ada kasebo kayu di kampung mala,lang, dia ambil, padahal lokasi itu saya yang jaga ke amanannya, itu lokasi sengketa, karna orang tuanya lawan, sudah pernah dulu jual sama Klaten kami.
Lanjut: karna saya penasaran apa salah saya sempat-sempatnya preman bayaran datang di tengah malam, sempat istri dan anak saya di kasi bangun ditengah malam.
Pada Minggu pagi, saya bertamu kerumah Jufri dg Beta yang tinggal disero, mereka adalah tetangga saya yang paling baik begitupun seluruh kelurganya, dan di situlah saya juga ketemu dg pa,ja istri dari dg Mili dan ibu dari Jufri dg Beta, dg pa,ja bercerita banyak soal preman tersebut, ternyata mereka sahabat suaminya dg pa,ja yaitu dg mile bapak dari Jufri dg Beta.
Preman tersebut bernama dg siruwa, sahabatnya dg mile, dan ada hubungan keluarga sama kama lurang, yang tinggal di sero, dg siruwa tinggal di pao-pao dekat SDN pao-pao.
Kata dg pa,ja dg siruwa adalah preman yang paling di takuti di wilayah kabupaten Gowa, mereka biasa di bayar, apabila ada orang yang mau di essekusi.
Lanjut: Setelah itu saya lagi konfirmasi sama haji ma,ja yang tinggal di paccinongan, melalui telpon seluler, kata haji ma,ja, meman dg sirua itu orang paling di takuti karna mereka keluarga besar di songkolo, mereka pula berteman sama dg ngunjung, dg ngunjung itu tinggal di Mala,Lang, dekat masjid Nurul muslimin abd asis Leo, kata haji ma,ja, bilang saja saya ini orang asli paccinongan, dan saya berkeluarga sama haji ma,ja yang tinggal di paccinongan.
Lanjut: sekali lagi, saya sijaya, seandainya, keluarga tetta yang tinggal di Pattallassang, tidak menelpon bungkin, wartawan yang bernama sijaya, sudah diessekusi oleh preman-preman yang paling di takuti di seluruh wilayah.
Begitupun istri saya, yang bernama nasria, dan tidak pula menelpon mungkin saya sudah jadi mayat di depan rumah saya sendiri, dan tidak tau soal persoalan tersebut.
Dan begitupun camat somba Opu, agussalim s sos dan jajaran dan gabungan satuan tugas Kapolres Gowa, saya dan keluarga saya, seandainya keluhan saya tidak direspon mungkin, saya sudah tidak bernapas pada hari ini.
Dan begitupun, DTT IPDA WAP, dan luar biasa kenerja beliau dan jajaran Kapolres Gowa, dan Ramil, Babinsa, salut mereka semua, bravo TNI polri sehat selalu.
( TAFSIR ).





