Oleh : Chaidir Toweren
Makna pepatah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ yang menjadi judul pada tulisan penulis hari ini, agar kita tidak selalu mengikuti segala tingkah laku guru ataupun pimpinan untuk ditiru.
Makna ini, mungkin bisa benar dan mungkin juga salah. Benar ketika perilaku guru ataupun pimpinan tidak menyimpang dari kode etik dan salah. jika tindakan dan prilaku yang dilakukan salah mendingan tidak usah di ikuti, jangan seperti dalam istilah bahasa gayo “Onong-onong” (ikut-ikutan).
Don’t repeat the same mistakes
(Tidak mengulangi kesalahan yang sama) dalam islam bisa disebut khemar. Khemar adalah seekor binatang yang disebut-sebut namanya di dalam al Qur’an, ternyata memiliki keistimewaan. Binatang yang menyerupai kuda namun ukurannya lebih kecil itu, tidak pernah tertumbuk batu yang sama secara berulang-ulang. Apabila binatang itu pernah terpeleset atau tertunbuk di suatu tempat, maka tidak akan pernah mau lagi melewati tempat itu. Maka, khemar disebut binatang yang tidak mau mengulangi kesalahannya.
Mengingat nama binatang itu rasanya kita menjadi malu. Sebab kesalahan itu tidak saja terulang dua atau tiga kali, melainkan hingga berkali-kali, tetapi tidak pernah menyadarinya. Memang manusia suka berbicara manajemen modern, betapa pentingnya kontrol, dan juga evaluasi yang katanya harus selalu dilakukan, tetapi sebagaimana disebutkan di muka, masih saja tidak mau belajar dari pengalamannya.
Pengulangan terhadap kesalahan itu sebenarnya terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, baik menyangkut pemerintahan, pendidikan, politik dan lain sebagainya. Dalam bidang politik misalnya, pemilihan kepala daerah sebagaimana dijalanakan selama ini memiliki resiko yang amat besar. Jual beli suara, suap menyuap, dan sejenisnya menjadikan para kepala daerah masuk bui, tetapi kekeliruan itu masih diulang-ulang, sehingga akibatnya tidak kurang dari 300 orang kepala daerah, yaitu bupati, wali kota, gubernur, masuk penjara.
Kenyataan itu tentu sangat menyedihkan. Orang-orang yang semula terpandang, terhormat, dan dianggap pintar di daerahnya ternyata mampu melakukan kesalahan berulang kali. Sebuah pemerintahan bila menerbitkan sebuah surat harus melalui tahapan demi tahapan, tetapi mengapa tahapan tersebut bisa terlewatkan oleh sebuah kesalahan.
Pernah suatu waktu, penulis melakukan diskusi bersama salah seorang ketua PWI yang notabenenya sudah jenjang Kompetensi Utama. Dimana kompetensi itu adalah kompetensi tertinggi dalam dunia jurnalis. Dalam sebuah pembicaraan ada beberapa sebab yang menjadikan sebuah berita dapat di katakan hoaks salah satunya adalah lesalahan dalam penulisan tanggal atau waktu.
Itu dalam pembuatan sebuah realesan saja, waktu tidak boleh salah ataupun di salah sengajakan. Apalagi sebuah informasi ataupun pengumuman, atau bisa saja undangan. Pembuatan waktu yang salah atau penepatan waktu yang terlambat bisa berdampak buruk bagi siapa saja.
Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan siapapun, sesuatu yang pernah salah seharus tidak layak terjadi dalam sebuah administrasi pemerintahan, semoga menjadi pembelajaran kita bersama agar kedepan lebih jeli dan teliti, jangan sampai efek yang salah melahirkan sesuatu yang salah terus.
Tuhan telah mengajarkan manusia melalui contoh berupa perilaku hewan yaitu khemar, agar tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama. Namun ternyata tidak selalu diperhatikan dan apalagi ditiru. Atau kita bisa mengambil makna dari sebuah film Indonesia dengan judul “siap gan” banyak cerita baik di sana untuk menghindari sebuah kesalahan, yang dilakukan, dan berujung dengan kebaikan, Wallahu a’lam.
Sumber : dari berbagai tulisan





