Langsa | 1kabar.com
Abah ( Zul etek) salah seorang tokoh masyarakat Aceh yang kini menetap di Jakarta, menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sosial di tanah kelahirannya. Menurutnya, meski Aceh memiliki lembaga adat dan simbol kepemimpinan tradisional berupa Wali Nanggro, angka kejahatan di provinsi tersebut masih tergolong tinggi.

Abah (Zul etek) menyoroti berbagai bentuk kejahatan yang meresahkan masyarakat, mulai dari peredaran narkoba hingga praktik korupsi yang melibatkan pejabat.
“Saya heran, apa sebenarnya dampak keberadaan Wali Nanggro bagi masyarakat Aceh kalau tidak mampu mendorong perubahan perilaku, baik di kalangan masyarakat maupun pejabatnya,” ujarnya dengan nada kritis melalui hp seluler dengan Media ini, kamis(13/11)
Ia menilai, keberadaan Wali Nanggro seharusnya menjadi simbol pemersatu dan penggerak moral masyarakat Aceh. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran tersebut belum sepenuhnya dirasakan. Tingginya kasus narkoba dan korupsi justru memperlihatkan adanya krisis moral dan lemahnya pengawasan sosial.
Abah ( Zul etek) berharap agar lembaga adat dan kepemimpinan tradisional di Aceh tidak hanya berfungsi sebagai simbol budaya, tetapi juga mampu memberikan pengaruh nyata dalam menekan angka kriminalitas.
“Aceh dikenal dengan nilai-nilai syariat dan adat yang kuat. Seharusnya itu menjadi benteng moral, bukan sekadar slogan,” tambahnya.
Kritik ini mencerminkan kegelisahan sebagian masyarakat Aceh yang menginginkan perubahan nyata. Mereka berharap agar peran Wali Nanggro dan lembaga adat lainnya dapat lebih aktif dalam membangun kesadaran, memperkuat pendidikan moral, serta mendorong pejabat untuk menjunjung tinggi integritas.
Dengan demikian, suara Abah Zul etek menjadi pengingat bahwa simbol kepemimpinan adat tidak cukup hanya hadir secara formal. Yang lebih penting adalah bagaimana kehadirannya mampu memberi dampak nyata dalam memperbaiki perilaku sosial dan politik di Aceh.
(Said)





