Bali|1kabar.com
Denpasar- Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah dinilai sebagai titik penting untuk memperkuat rekonsiliasi nasional dan merajut kembali persatuan bangsa pasca dinamika politik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Nilai Hari Raya harus dimaknai sebagai refleksi kebangsaan dalam memperkuat kohesi sosial. Idul Fitri adalah momentum strategis untuk mengakhiri perbedaan dan memperkuat kembali persatuan bangsa. Dalam demokrasi, perbedaan adalah hal yang wajar, namun persatuan tetap menjadi fondasi utama yang tidak boleh terganggu,” ujar Arief
Dinamika politik yang mengemuka belakangan ini merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat, namun harus diakhiri dengan semangat rekonsiliasi agar tidak menimbulkan polarisasi berkepanjangan di tengah masyarakat.
Arief menyampaikan bahwa upaya rekonsiliasi tidak cukup hanya dilakukan di tingkat elite, melainkan harus menyentuh seluruh lapisan masyarakat.Rekonsiliasi sejati adalah ketika masyarakat kembali saling percaya, saling menghormati, dan bersatu dalam semangat kebangsaan. Ini adalah tanggung jawab bersama, baik pemerintah, tokoh masyarakat, maupun seluruh elemen bangsa,” tegasnya.
Stabilitas nasional yang kuat hanya dapat terwujud apabila didukung oleh persatuan yang kokoh dan inklusif. Oleh karena itu, Arief berharap seluruh pihak untuk meninggalkan perbedaan yang bersifat politis dan fokus pada agenda pembangunan nasional.Ke depan, tantangan bangsa tidak semakin ringan,jadi kita membutuhkan kebersamaan, kolaborasi, dan persatuan yang solid untuk memastikan pembangunan berjalan optimal dan merata,” ujarnya.
Arief juga mengajak masyarakat menjadikan semangat Idul Fitri sebagai energi baru dalam memperkuat solidaritas sosial dan mempererat persaudaraan antar sesama anak bangsa.Perbedaan adalah keniscayaan dalam demokrasi, tetapi persatuan adalah kekuatan utama bangsa. Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momentum untuk kembali bersatu dan melangkah bersama membangun Indonesia yang lebih maju,” pungkasnya.





