Redelong | 1kabar.com
Salah seorang keluarga pasien yang tidak mau disebutkan namanya, dikarenakan pasien masih dalam perawatan di rumah Sakit Umum Muyang Kute Bener Meriah merasa kecewa, karena di agnosa penyakit pasien setiap hari berbeda-beda.
Kepada beberapa awak media, Kamis (12/9/2024) dirinya menceritakan, bahwa saat dibawa ke Rumah Saki Muyang Kute, dan ditangani oleh
dokter, pasien di vonis sakit jantung dan langsung di rujuk untuk ditangani dokter spesialis Jantung RSU Muyang Kute. Ternyata setelah ditangani dokter jantung, beliau mengatakan bahwa pasien tidak ada penyakit jantung.
“Saat diperiksa dokter setiba di Rumah Sakit Muyang Kute, dokter yang menangani pasien langsung mengantakan bahwa pasien terkena penyakit jantung, pernyataan tersebut langsung diutarakan pada pasien, sehingga pasien semakin down dan mengalami badan sampai gemetar. Setelah di periksa oleh dokter jantung dan dinyatakan pasiem tidak ada penyakit jantung baru pasien tenang,”kata keluarga pasien.
Yang buat kami semakin binggung setiap hari, pasien sudah dirawat selama tiga hari (Kamis/red), diagnosa penyakit keluarga kami selalu berubah-ubah, hari pertama jantung, setelah diperiksa tidak ada jantung, didiagnosa asma, kemudian terakhir dinyatakan inpeksi paru-paru. Dan anehnya lagi yang menanganinya juga bukan dokter paru. Bagaimana ini, seorang dokter yang menjadi panutan kesehatan masyarakat tetapi memberikan pelayanan yang membuat pasien bukan semakin bersemangat malah membuat pasien down, karena kesembuhan seseorang itu lahir dari sugesti, bagaimana seorang pasien mendapat sugesti baik, jika tuduhan penyakit terhadap dirinya selalu berubah-ubah, jelasnya.
Sebelumnya awak media juga pernah menerima keluhan dari salah seorang pejabat di pemerintahan kabupaten Bener Meriah, saat dialog ringan terkait RSU Muyang Kute, dirinya merasa kecewa walaupun ajal adalah ketentuan dari Allah SWT, tetapi salah satu penyebab meninggalnya salah seorang keluarga juga diduga ada unsur salah diagnosa. Untuk mendaparkan kejelasan dari pihak RSU Muyang Kute, awak media mencoba mengkonfirmasi Kepala bidang pelayanan Medis RSU Muyang Kute dr Evi Syahrinawati melalui pesan whatsapp terkait adanya kesalahan diagnosa pasien sampai berulang-ulang.
Dalam penjelasan yang disampaikan melalui pesan whatsapp dr Evi Syahrinawati menyampaikan bahwa untuk memberikan identitas pasien agar dirinya bisa mencari tau lebih jelas kronolgis kejadiannya.
“Terimakasih atas informasinya bapak/ibu. Supaya informasi nya lebih jelas boleh saya minta bantu identitas pasien lengkap? biar saya bisa mencari tau lebih jelas kronolgi kejadiannya. Karena ini terkait dengan asuhan pasien tentu saya harus mencari secara detail, “ujarnya.
Awak media menyapaikan bahwa mereka tidak bisa memberi tahu terhadap pemberi informasi, pemberitahuan nama pasien sama juga dengan memberitahukan saksi dari sebuah informasi yang disampaikan, untuk itu sesuai ketentuan kami tetap menjaga identitas.
Dalam jawaban berikutnya kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Muyang Kute kembali menyatakan, bahwa mereka tidak bisa menerima laporan bila tidak memberikan identitas pasien.
“Mohon maaf bapak, kalau demikian saya juga tidak bisa menjawab pertanyaan bapak karena ini terkait asuhan pasien. Sebagai masukan bapak jika memang pasien atau keluarga pasien ada komplain terkait penanganan atau pelayanan bisa bapak kasi masukan ke beliau untuk langsung menyampaikan ke bidang pelayanan, bisa melalui kepala ruangan, case manager, ataupun langsung ke saya, biar segera kita tangani agar pasien/keluarga bisa mendapatkan penyelesaian masalah yang lebih komplit dan tepat waktu, “jelasnya.
Dalam menjelaskan jawaban tersebut awak media menyatakan, masyarakat secara awam tidak faham akan prosedur, dan mereka juga merasa khawatir karena masih di rawat dan juga masih akan berobat ke RSUD Muyang Kute sehingga sikap protes mereka lakukan berdiam diri dan hanya mampu curhat atas kejadian mereka di karenakan ketakutan dan ketidak fahaman masyarakat atas sebuah aturan.
Di akhir penjelasannya dr Evi menyampaikan bahwasanya pihak Rumah Sakit akan melakukan sosialisasi hak-hak pasien, sehingga masyarakat tidak ragu dalam memberikan kritikan dan masukan serta saran ke RS. Dan dirinya juga berjanji akan menelusuri permasalahan ini. (Tim)





