1.Kabar.Com
Aceh//Langsa – Pemerintah Kota Langsa menggelar Rembuk Stunting Tahun 2025 sebagai bentuk komitmen dalam menekan angka stunting di wilayah tersebut. Kegiatan yang berlangsung di Aula Setdakota Langsa, Kamis (10/07/2025), dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Langsa, Muhammad Haikal Alfisyahrin, ST, mewakili Wali Kota Langsa Jeffry Sentana Putra, SE.
Dengan mengusung tema “Pelaksanaan Strategi Nasional Tahun 2025-2029 untuk Capaian Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting di Kota Langsa”, kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah unsur Forkopimda dan stakeholder terkait. Hadir di antaranya Plt Sekda Kota Langsa Dra. Suhartini, M.Pd, Wakil Ketua TP PKK Ny. Safira Muhammad Haikal, Kepala DP3A DALDUK dan KB Amrawati, SKM, MKM, Wakil Ketua II DPRK Langsa Noma Khairil, Kajari Langsa Efrianto, SH, MH, Kepala PN Langsa Kemas Reynald Mei, SH, MH, Wakapolres Langsa Kompol Hendra Marlan, SH, SIK, perwakilan Kodim 0104/Atim, Kepala BNNK Langsa Dr. Muhammad Dahlan, SH, MH, unsur MAA, MPU, MPD, serta perwakilan perguruan tinggi, OPD, camat, dan undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Langsa menyampaikan bahwa rembuk stunting merupakan langkah strategis dan kolaboratif yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah untuk memastikan pelaksanaan intervensi penurunan stunting berjalan tepat sasaran dan terintegrasi.
“Melalui rembuk ini, kita menyatukan persepsi, menyinkronkan data, dan mensinergikan program antar-OPD dengan hasil Musrenbang tingkat kecamatan dan desa,” ujar Haikal.
Ia menjelaskan, rembuk stunting merupakan aksi lanjutan setelah pemerintah daerah melakukan analisis situasi (Aksi 1) dan menyusun rancangan rencana kegiatan (Aksi 2) yang terintegrasi. Dalam forum ini, hasil dari proses partisipatif masyarakat melalui Musrenbang juga menjadi acuan penting dalam penyusunan strategi penurunan stunting.
Haikal juga memaparkan lima strategi nasional percepatan penurunan stunting, yakni:
1-Peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di semua jenjang pemerintahan.
2-Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat.
3-Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan sensitif.
4-Peningkatan ketahanan pangan dan gizi.
5-Penguatan sistem, data, riset, dan inovasi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendekatan keluarga berisiko stunting menjadi kunci dalam mencegah kelahiran balita stunting. Karena itu, strategi lintas sektor sangat dibutuhkan, termasuk melalui forum koordinasi seperti rembuk stunting ini.

“Kita harus hadir di tengah keluarga-keluarga berisiko. Kita rumuskan kebijakan berbasis data, lalu eksekusi bersama di lapangan. Ini bukan hanya tugas dinas kesehatan, tapi tugas kita semua,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Komitmen Bersama Cegah Stunting oleh Wakil Wali Kota Langsa dan unsur Forkopimda, sebagai simbol komitmen lintas sektor dalam upaya menurunkan prevalensi stunting secara berkelanjutan di Kota Langsa.( : )
( wan atjeh)





