Aceh Singkil –1kabar.com. Nama Yakarim bukan sekadar kisah seorang mantan prajurit TNI. Ia adalah sosok keras kepala, berani, dan pantang menyerah. Warga menyebutnya sebagai “tank hidup” karena mental baja yang tak bisa dibeli dengan jabatan, uang, atau tekanan. Dari Sabang sampai Merauke ia pernah bertempur, dan kini medan juangnya pindah ke Aceh Singkil: melawan ketidakadilan yang menindas masyarakat kecil.
Bagi Yakarim, perang dengan senjata hanyalah bagian dari masa lalu. Kini ia menghadapi peperangan yang lebih kejam: kesewenang-wenangan aparat, permainan kotor pejabat, dan kebijakan yang merampas hak-hak rakyat. Bedanya, musuhnya bukan lagi tentara asing, melainkan sesama anak negeri yang rakus dan lupa diri.
“Kalau dulu saya melawan musuh dengan senapan, sekarang saya melawan kebusukan dengan suara rakyat. Dan percaya, saya tidak akan pernah mundur selangkah pun,” ujar Yakarim tegas, membuat bulu kuduk banyak orang merinding.
Suara Yakarim kini menjadi momok bagi para penguasa yang gemar menindas. Ia tidak segan menelanjangi kebobrokan di depan publik, bahkan jika harus berhadapan langsung dengan pejabat tinggi. Baginya, rakyat kecil yang diinjak-injak harus punya pembela. Dan ia siap berdiri di garda terdepan, meski nyawa jadi taruhannya.
Masyarakat Aceh Singkil pun melihat Yakarim bukan sekadar mantan prajurit, tetapi simbol perlawanan. Sosok yang berani melawan arus, tak gentar meski diintimidasi, dan tak bisa dibungkam oleh ancaman atau janji manis.
“Negeri ini rusak bukan karena rakyatnya bodoh, tapi karena pemimpinnya rakus. Saya sudah terbiasa hidup di medan perang, jadi jangan kira saya takut dengan kursi, pangkat, atau kekuasaan!” tegasnya dalam sebuah pertemuan warga yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Menurut Jul, salah seorang tokoh masyarakat, Yakarim adalah pribadi yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat dalam setiap langkahnya. Sosok Yakarim itu membela hak-hak masyarakat yang tertindas. Ia bukan mencari pangkat atau jabatan, tapi benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat kecil,” tegas Jul.
Hari ini, Yakarim menjadi duri dalam daging bagi mereka yang bermain kotor di Aceh Singkil. Namun justru di situlah letak kekuatannya: keberanian yang brutal, keteguhan yang tak bisa digoyahkan, serta kesetiaan mutlak kepada rakyat.
Di mata masyarakat kecil, Yakarim bukan hanya nama, tetapi senjata terakhir melawan tirani.
Suara masyarakat pun menguat, seperti seruan yang bergema dari warga Lawan kezaliman jangan takut! Ini kampung halaman kita dan demi kebenaran. Jika kita diam, habislah hukum dipermainkan. Ayo bangkit lawan kezaliman! Red:





