OpiniPeristiwa

Siapa Penjajah yang Sebenarnya?

376
×

Siapa Penjajah yang Sebenarnya?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Chaidit Toweren

1kabar.com — Pernyataan Kang Dedi Mulyadi beberapa waktu lalu kembali membuka ruang renungan bagi kita semua: Indonesia pernah dijajah selama 350 tahun, namun mereka meninggalkan jejak berupa jalan-jalan yang kokoh, jembatan yang kuat, bangunan yang berusia ratusan tahun, hingga hamparan perkebunan yang tertata rapi. Sementara setelah lebih dari 80 tahun merdeka, kita justru menyaksikan jalan-jalan yang mudah rusak, jembatan yang cepat roboh, bangunan publik yang tak bertahan lama, serta gunung-gunung yang semakin gundul. Pertanyaan yang mencuat pun sangat menggelitik nurani, siapa sebenarnya penjajah itu?

Jika dulu bangsa ini berjuang mati-matian melawan kolonialisme fisik, hari ini kita justru berhadapan dengan bentuk “penjajahan” lain yang jauh lebih halus namun sangat merusak keserakahan, korupsi, kerakusan terhadap alam, dan moralitas yang terkikis di tubuh bangsa sendiri. Kita merdeka secara politik, tetapi belum sepenuhnya merdeka dari sikap-sikap yang merampas kesejahteraan rakyat dan menggerogoti tanah air dari dalam.

Baca juga Artikel ini  Kebohongan Soal Listrik di Aceh Pulih 93% Menyakitkan Korban Banjir Bandang dan Longsor dan Tidak Bisa Ditolerir, "Pecat Bahlil dan Darmo"

Bukan rahasia bahwa banyak proyek pembangunan dilakukan tanpa jiwa keberlanjutan. Jalan proyek miliaran rupiah hanya bertahan beberapa bulan sebelum kembali berlubang. Jembatan yang dibangun dengan anggaran fantastis runtuh bahkan sebelum sempat diresmikan. Gedung-gedung pemerintah yang megah justru dihuni retakan sejak awal pemakaian. Dan yang lebih menyakitkan, hutan-hutan yang dulu menjadi paru-paru negeri ini kini habis ditebang demi kepentingan sekelompok orang, meninggalkan bencana banjir, longsor, dan kemiskinan yang berkepanjangan bagi masyarakat sekitar.

Apakah hal-hal ini dilakukan oleh penjajah? Tidak. Ini semua adalah buah tangan dari sebagian anak bangsa sendiri. Maka ketika Kang Dedi mempertanyakan siapa penjajah yang sebenarnya, pertanyaan itu bukan untuk menunjuk masa lalu, melainkan menampar realitas masa kini.

Dalam logika sederhana, penjajah adalah mereka yang mengambil hak rakyat, yang merusak tatanan agar segelintir orang bisa hidup lebih nyaman, sementara mayoritas justru menderita. Apakah wajah penjajah itu asing? Tidak. Ia mungkin ada di balik tanda tangan proyek pembangunan. Ia mungkin ada di ruang rapat pengusaha yang mengabaikan lingkungan. Ia mungkin duduk dengan gagah di kursi kekuasaan sambil berbicara tentang kesejahteraan, tetapi diam-diam memotong anggaran untuk keuntungan pribadi. Dan ironisnya, mungkin ia adalah bagian dari sistem yang setiap hari kita biarkan berjalan.

Baca juga Artikel ini  Kebohongan Soal Listrik di Aceh Pulih 93% Menyakitkan Korban Banjir Bandang dan Longsor dan Tidak Bisa Ditolerir, "Pecat Bahlil dan Darmo"

Kita sering berteriak lantang soal kebanggaan sebagai bangsa besar. Kita banggakan luas wilayah, kekayaan alam, hingga keberagaman budaya. Tetapi apa gunanya kebanggaan itu bila tanah sendiri kita eksploitasi, jalan sendiri kita rusak karena material yang dicurangi, jembatan sendiri kita runtuhkan karena tender yang dimenangkan bukan oleh yang paling layak, melainkan oleh yang paling “berani bayar”? Apakah itu makna kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa?

Baca juga Artikel ini  Kebohongan Soal Listrik di Aceh Pulih 93% Menyakitkan Korban Banjir Bandang dan Longsor dan Tidak Bisa Ditolerir, "Pecat Bahlil dan Darmo"

Kemerdekaan sejati bukan hanya soal bebas dari penjajah asing. Kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat bebas dari ketidakadilan, bebas dari korupsi, bebas dari eksploitasi, dan bebas dari kerusakan yang dibuat oleh tangan-tangan serakah. Jika dulu penjajah datang dari laut, hari ini penjajah justru datang dari dalam dada manusia, rasa rakus yang tidak ada batasnya.

Maka, jika kita jujur, penjajah itu bukan lagi mereka yang datang dari negeri seberang. Penjajah itu justru mereka yang lahir, tumbuh, dan hidup di antara kita, bahkan mungkin dalam diri kita sendiri ketika kita membiarkan nilai-nilai moral terkikis oleh kepentingan pribadi.

Indonesia tidak mungkin maju jika terus dijajah oleh bangsanya sendiri. Dan kemerdekaan yang sejati hanya bisa diraih ketika kita berani mengatakan  “Cukuplah penjajahan dari dalam ini. Mari kita hentikan bersama.”