Banda Aceh | 1kabar.com – Di tengah harapan besar masyarakat terhadap pengelolaan sektor minyak dan gas bumi Aceh yang semakin profesional dan berdaya saing global, nama Said Malawi mulai banyak diperbincangkan sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki kompetensi untuk memimpin Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).
Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade di industri migas nasional dan internasional, Said Malawi dikenal memiliki rekam jejak di berbagai proyek energi berskala besar, termasuk proyek LNG di Qatar dan perannya saat ini sebagai Commissioning & Start-Up Manager di PT JGC Indonesia. Profil tersebut juga pernah disorot dalam pemberitaan mengenai kandidat Kepala BPMA pada proses seleksi sebelumnya.
Bagi banyak kalangan industri, tantangan BPMA ke depan tidak hanya menjaga produksi migas, tetapi juga meningkatkan investasi, memperkuat tata kelola, mendorong transfer teknologi, serta memperbesar manfaat ekonomi bagi masyarakat Aceh. BPMA sendiri dibentuk untuk mengelola kegiatan hulu migas di Aceh agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Yang menjadi nilai tambah Said Malawi bukan hanya pengalaman teknis di lapangan migas internasional, tetapi juga kombinasi kompetensi manajemen, kepemimpinan organisasi, dan jejaring global yang dibangun selama berkarier di sektor energi.
Selain aktif di dunia profesional, Said juga dikenal berkontribusi dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, forum bisnis internasional, dan kegiatan yang memperkuat hubungan Aceh dengan komunitas energi global. Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi modal penting untuk membuka peluang investasi baru dan memperluas kerja sama strategis bagi pengembangan migas Aceh.
Dalam berbagai kesempatan, Said Malawi menekankan bahwa pengelolaan migas bukan sekadar persoalan produksi dan bisnis, melainkan amanah untuk menghadirkan kesejahteraan masyarakat melalui tata kelola yang profesional, transparan, dan berorientasi pada kepentingan daerah.
Dengan latar belakang sebagai putra Aceh yang berkarier di tingkat internasional, Said Malawi dinilai membawa perspektif baru dalam pengembangan industri migas. Pendekatan berbasis profesionalisme, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta jejaring investasi global menjadi faktor yang membuat namanya layak diperhitungkan dalam setiap pembahasan mengenai kepemimpinan BPMA.
“Aceh membutuhkan kepemimpinan yang memahami standar industri migas dunia sekaligus memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan daerah. Pengalaman global harus menjadi nilai tambah untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh.”
Narasi tersebut menjadi cerminan visi yang ingin dihadirkan Said Malawi: membawa pengalaman dunia untuk memperkuat kemandirian energi, meningkatkan investasi, dan mendorong kemakmuran Aceh melalui pengelolaan migas yang profesional dan berkelanjutan.












