Lhokseumawe | 1kabar.com
Amriya mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh, melontarkan kritik tajam terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur terkait kondisi empat desa di desa buket pala yang terisolir di wilayah Kecamatan Pereulak, Kabupaten Aceh Timur. Dia menyoroti rusaknya jembatan berkonstruksi besi dan kayu menghubungkan antar Desa di Gampong Buket Pala, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur kini tak bisa lagi dilalui, termasuk jalan kaki.
Jembatan yang memiliki panjang 12 meter, lebar 4 meter selama menjadi penghubung empat desa antara lain, Cek Mbon, Buket Pala, Lubok Peng-peng, dan Blang Simpo. Yang kini tidak dapat dilalui, sehingga mengakibatkan terputusnya akses bagi masyarakat tersebut ujarnya.
Semenjak kerusakan makin parah sejak tahun 2018 silam warga sempat berinisiatif memperbaiki jembatan dengan memasang kayu. Namun, saat ini rusak kembali.
“Situasi ini sangat memprihatinkan. Masyarakat yang berada di desa-desa ini tidak hanya terisolasi dari akses transportasi, tetapi juga dari layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur seharusnya lebih sigap dan responsif terhadap infrastruktur vital seperti jembatan penghubung ini,” ungkapnya dalam pernyataannya.
Jembatan yang menjadi akses utama bagi masyarakat di empat desa ini kini dalam kondisi rusak parah, sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan maupun pejalan kaki.ia juga menekankan bahwa pemkab harus segera mengambil tindakan untuk memperbaiki kondisi ini demi kesejahteraan warga setempat.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi soal tanggung jawab pemerintah untuk memastikan bahwa semua warganya dapat menikmati hak-hak dasar mereka. Keterlambatan perbaikan infrastruktur seperti ini hanya akan memperburuk kondisi kehidupan masyarakat yang sudah rentan,” lanjutnya.
Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap isu-isu sosial dan politik, Amriya berharap Pemkab Aceh Timur dapat segera bertindak dan melakukan perbaikan terhadap jembatan tersebut sebelum kondisi semakin memburuk. Menurutnya, langkah-langkah konkret harus diambil untuk mencegah terulangnya situasi serupa di masa depan.
“Masyarakat tidak bisa terus-menerus menunggu. Pemkab harus mengambil langkah nyata dan segera memperbaiki jembatan tersebut. Jika tidak, dampaknya akan semakin luas, terutama bagi anak-anak yang harus pergi ke sekolah dan para petani yang bergantung pada akses tersebut untuk memasarkan hasil pertanian mereka,” tutupnya.
Dengan kritik ini, Amriya berharap pemerintah daerah dapat mendengar dan merespon keluhan warga demi kesejahteraan bersama.
**Report misfakhrul**





