Jakarta|1kabar.com
Investasi dan hilirisasi tidak lagi cukup dipahami sebagai aktivitas ekonomi semata. Keduanya harus ditempatkan sebagai arsitektur besar transformasi negara. Pandangan ini dipaparkan oleh Arief Martha Rahadyan, yang menilai bahwa Indonesia telah memasuki fase baru pembangunan dari negara pengekspor sumber daya menjadi negara produsen nilai tambah dan pengendali rantai pasok global.
Investasi dan hilirisasi harus menjadi pintu masuk menuju ekonomi berbasis kapabilitas nasional dengan kemampuan SDM, institusi, dan teknologi dalam menciptakan nilai tambah berkelanjutan.
Arief memperkenalkan konsep Investasi berdaulat dan Hilirisasi Generasi Baru, yaitu hilirisasi yang tidak berhenti pada pembangunan smelter atau pabrik pengolahan, tetapi membentuk ekosistem industri terintegrasi, mulai dari riset, desain produk, manufaktur presisi, hingga ekspor berbasis merek nasional, tanpa penguasaan teknologi, kita hanya berpindah dari pengekspor bahan mentah ke buruh industri,” ujarnya.
Sedangkan Investasi Berdaulat yakni negara berperan aktif menentukan arah, standar, dan dampak investasi.dalam mengatur, mengarahkan, dan melindungi kepentingan strategis nasional yang berorientasi teknologi, dan berpihak pada masa depan.
Arief optimistis, dengan strategi investasi berdaulat dan hilirisasi generasi baru, Indonesia memiliki peluang historis untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan masuk ke jajaran negara maju.Ini bukan soal pertumbuhan angka ekonomi, tapi soal perubahan struktur kekuatan nasional. Jika kita konsisten, Indonesia tidak hanya akan tumbuh, tetapi Indonesia akan memimpin,” pungkas Arief Martha Rahadyan.





