Oleh : Putra Aksi Belawan
BELAWAN | 1kabar.com
Di masa lalu, Belawan bukan sekadar nama. Ia adalah nadi ekonomi, rumah bagi para pekerja keras dan harapan bagi ribuan keluarga.!. Dari Pelabuhan yang gemuruh dan kami tumbuh. Dari peluh para sopir, kernet, buruh, nelayan, hingga tukang becak dan kami hidup.!. Kota ini berdiri dari jerih payah orang-orang kecil yang tak dikenal, tak disebut dan tapi sejatinya penyangga Negeri.
Dulu, kami tidak punya banyak dan tapi kami punya harapan.!. Anak-anak kami tumbuh melihat kapal-kapal raksasa yang datang dan pergi.!. Kami percaya, kelak kami bisa ikut naik, mengubah nasib dan membawa Belawan ke puncak kejayaan.
Namun Itu Dulu :
Hari ini, Belawan sekarat. Yang tersisa hanya kenangan dan air mata. Depo-depo kontainer berdiri menjulang, tapi rumah-rumah kami tenggelam dalam lumpur dan rob. Jalan-jalan kami rusak. Gang-gang penuh genangan. Anak-anak tumbuh di lorong gelap yang beraroma limbah dan kekerasan.!. Kami tersingkir.!. Kami tergusur.!. Kami dilupakan.
Setiap hari kami melihat impian mati.
Setiap malam kami dengar jeritan sunyi dari dinding-dinding rumah yang retak.!. Kami ingin bertanya : Apakah kami masih dianggap manusia.!. Atau hanya angka dalam laporan statistik.
Para pemimpin datang dengan Mobil hitam mengkilap, berbicara tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan investasi Pelabuhan.!. Tapi mereka tak pernah mampir ke rumah kami yang bocor.!. Mereka tak pernah mencium bau got kami.!. Tak pernah menyapa Ibu kami yang menjajakan gorengan demi menyekolahkan Anak.
Dan kami hanya bisa berdiri — di tepi Rel dan di bawah jembatan dan di lorong-lorong sempit — menyaksikan dunia yang semakin menjauh.
Kami tahu kami bukan siapa-siapa.!. Tapi kami manusia.!. Kami punya hati.!. Kami punya luka.!. Kami juga punya suara.!. Generasi muda kami sedang di ambang kehancuran.
Narkoba, tawuran, judi online, geng motor, begal dan semuanya seperti racun yang mengalir dalam darah Kota ini.!. Mereka putus asa.!. Mereka tidak punya mimpi dan karena setiap hari hanya dihadapkan pada kenyataan pahit : hidup susah dan mati tak dihargai.
Saya menulis ini sebagai seorang Anak Kampung dari Lorong Sempurna.!. Telah 48 Tahun saya menyaksikan luka yang tak pernah sembuh. Saya menulis ini bukan untuk mengutuk, tapi untuk membangkitkan nurani.!. Untuk menggugah siapa pun yang masih punya kepedulian.
Belawan bukan mati.!. Belawan hanya dipaksa diam.!. Tapi kami tak akan tinggal diam.
Saya titip pesan kepada generasi muda anak-anak Pesisir, anak-anak Lorong dan anak-anak Pelabuhan, Jangan kalah.!. Jangan tunduk.!. Jangan hancur.!. Bukan salah kalian lahir di Kampung miskin.!. Tapi salah kita semua jika membiarkan kalian mati dalam kemiskinan dan kejahilan.
Bangkitlah.!. Lawan arus dengan Karya.!.
Hentikan narkoba, jauhi kekerasan dan lawan kebodohan.!. Karena ketika kita berubah, Belawan akan bangkit.!. Dan dunia akan mendengar lagi nama kita bukan sebagai korban dan tapi sebagai pejuang.
Belawan, kami yang tersisa dan akan menjadi Belawan yang baru.!. Dengan luka dan tapi juga dengan semangat.!. Dengan air mata, tapi juga dengan tekad.!. Kami masih di sini.!. Kami belum habis.!. Kami akan kembali.(***)
(Oleh : Putra Aksi Belawan)





