Denpasar -| 1kabar.com Tidak semua lembaga pendidikan besar lahir dari gedung megah. BEC Academy di Kabupaten Badung, Bali adalah buktinya. Dari aktivitas sederhana di bidang bimbingan dan pelatihan pada 2019, kini BEC Academy telah berkembang menjadi lembaga kursus dan pelatihan setara D1 dengan 125 peserta didik aktif dan fokus pada kompetensi kerja perhotelan.
Di balik pertumbuhan itu ada sosok Ni Made Milati, S.S.,M.Hum.Perempuan yang pernah bekerja sebagai front office hotel dengan bekal bahasa Inggris ini memulai BEC Academy dengan fasilitas yang sangat terbatas.
“Dulu kami belum punya apa-apa. Fasilitasnya masih sangat terbatas. Apa yang kami miliki sekarang bagi kami sudah sangat luar biasa, karena semuanya dibangun sedikit demi sedikit,” kenang Milati.
Momentum penting justru datang di masa sulit. Saat pandemi Covid-19, Milati sempat dipercaya menjadi sekretaris Forum Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) tingkat Provinsi Bali, lalu menjadi pelaksana tugas ketua setelah ketua sebelumnya meninggal karena Covid-19.
Posisi itu membuka mata. Mengelola puluhan cabang bukan hal mudah. Milati memilih mundur dari jabatan ketua forum dan fokus kembali ke BEC Academy bersama tim.
” Saya berpikir, kapasitas saya saat itu masih perlu banyak belajar untuk mengelola lembaga dengan sekian banyak cabang. Karena itu saya memilih mundur sebagai ketua dan lebih fokus mengembangkan lembaga bersama tim,” ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik.
Pada 2020, BEC Academy mendapat kepercayaan mengikuti program pemerintah Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW). Awalnya program berjalan di bidang bahasa, termasuk Bahasa Korea. Namun melihat peluang industri pariwisata Bali, Milati menggeser fokus ke perhotelan sejak 2021.
“Saya dulu juga pernah bekerja di hotel, di front office, karena memang bidang saya bahasa Inggris. Ketika ada peluang di bidang perhotelan, saya berpikir mungkin ini saatnya kembali mengembangkan pengalaman itu dalam dunia pendidikan,” tuturnya.
Dari situ, ia bersama tim menyusun kurikulum perhotelan sendiri. Pelatihan yang awalnya hanya 3 bulan dikembangkan menjadi program yang lebih komprehensif. Milati rajin studi banding ke berbagai daerah untuk mempelajari infrastruktur, sistem pembelajaran, dan kebutuhan industri vokasi.
BEC Academy sendiri kini tercatat sebagai lembaga di Kabuoaten Badung dengan skala 11-50 karyawan dan terverifikasi, yang menjalankan program English Course (anak-dewasa), Bimbel (TK-SMA), hingga program unggulan perhotelan setara 1 tahun.
Perkembangannya signifikan pada 2023-2024. Fasilitas yang dulu sederhana mulai dibangun bertahap. Bangunan satu lantai kini menjadi dua lantai dan lebih representatif. Program perhotelan dipusatkan di kampus utama BEC Academy, sementara beberapa cabang lain seperti di Sakah masih dengan sistem sewa/kontrak.
Kini di angkatan keempat, BEC Academy mengampu sekitar 125 mahasiswa. Bagi Milati, jumlah bukan sekadar angka.
“Bagi saya, pendidikan itu bukan hanya bagaimana mahasiswa mendapatkan sertifikat. Yang paling penting adalah mereka benar-benar punya kompetensi dan siap ketika masuk ke dunia kerja,” tegasnya.
Harapannya, lulusan BEC Academy tidak hanya mengantongi sertifikat kompetensi, tetapi mampu memenuhi standar industri pariwisata global. Di tengah Badung sebagai jantung pariwisata Bali, kebutuhan tenaga kerja bersertifikat menjadi krusial.
Perjalanan BEC Academy pun belum berhenti. Milati tengah menyiapkan pembangunan gedung sendiri untuk cabang Sakah.
“Kalau yang di Sakah masih kami sewa atau kontrak. Mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan sehingga bulan depan kami bisa mulai membangun gedung sendiri,” harapnya.
Dari langkah kecil 2019, ujian pandemi, hingga mendampingi ratusan anak muda menuju dunia kerja, kisah Ni Made Milati membuktikan membangun pendidikan bukan soal gedung, melainkan tentang ketekunan membaca peluang dan keberanian untuk terus belajar.(**)













