MEDAN | 1kabar.com
Pagi itu, suasana di Taman Beringin tidak seperti biasanya. Di antara warga yang mulai berkumpul untuk gotong royong akhir pekan, tampak sebuah perahu karet bergerak perlahan menyusuri aliran Sungai Babura. Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, memilih turun langsung melihat kondisi sungai, bukan dari laporan di meja kerja, tetapi dari air yang mengalir di hadapannya.
•𝗠𝗲𝗻𝘆𝘂𝘀𝘂𝗿𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗛𝘂𝗹𝘂 𝗸𝗲 𝗛𝗶𝗹𝗶𝗿.
Perjalanan dimulai dari bawah jembatan Jalan Monginsidi. Dari sana terlihat jelas persoalan yang selama ini sering luput dari pandangan: penyempitan alur sungai, tumpukan sampah rumah tangga, hingga batang pohon yang menghambat arus.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi sungai pascabanjir. Dengan melihat langsung, pemerintah dapat menentukan tindakan yang lebih cepat dan tepat, terutama terkait normalisasi aliran air.
Bagi masyarakat yang tinggal di Bantaran Sungai, pemantauan seperti ini penting karena menjadi dasar penanganan : pembersihan hambatan aliran, pengangkutan sampah secara berkala, serta koordinasi teknis dengan instansi pengelola wilayah sungai.
•𝗚𝗼𝘁𝗼𝗻𝗴 𝗥𝗼𝘆𝗼𝗻𝗴 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗸𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗦𝗲𝗿𝗲𝗺𝗼𝗻𝗶𝗮𝗹.
Setelah penyusuran, kegiatan berlanjut dengan gotong royong bersama warga dan dialog terbuka. Tidak ada jarak formal. Warga menyampaikan keluhan langsung, sementara Pimpinan Perangkat Daerah, unsur TNI/Polri, dan DPRD hadir untuk mendengar sekaligus menindaklanjuti.
Di kawasan Kelurahan Anggrung, warga mengeluhkan pohon tumbang di belakang Gereja Elim yang telah lama menghambat aliran air. Kondisi ini memicu penumpukan sampah dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras.
Pemerintah Kota Medan memastikan penanganan akan dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera II serta pengerahan alat berat dari dinas terkait.
Hambatan fisik di Sungai akan dibersihkan, tetapi keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kebiasaan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
•𝗔𝘀𝗽𝗶𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻.
Dialog juga memunculkan persoalan akses pendidikan nonformal. Relawan pengajar mengeluhkan jembatan penyeberangan yang miring dan licin menuju rumah belajar, sehingga membahayakan anak-anak.
Keluhan lain datang dari warga sekitar Sun Plaza hingga tembus ke Pasar Muara Takus terkait jalan rusak yang mengganggu mobilitas harian.
Pemerintah berjanji melakukan pengecekan lapangan untuk menentukan skala prioritas perbaikan.
•𝐊𝐞𝐫𝐣𝐚𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐓𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭 𝐊𝐨𝐭𝐚.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa koordinasi bantuan sosial diperkuat bersama Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Kementerian Sosial Republik Indonesia, dan Kementerian PANRB agar program bantuan dan pelayanan publik lebih tepat sasaran.
Ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan penanganan persoalan kota. Mulai dari lingkungan, infrastruktur, hingga kesejahteraan sosial.
𝐌𝐞𝐧𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐇𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐒𝐮𝐧𝐠𝐚𝐢.
Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di bantaran Sungai Babura. Bukan sekadar simbol, tetapi langkah kecil untuk memperkuat tebing sungai, memperbaiki kualitas udara, dan mengingatkan bahwa menjaga kota tidak bisa hanya dilakukan pemerintah.
Dari kegiatan di pagi hari itu, pesan yang ingin disampaikan sederhana:
masalah kota paling jelas terlihat ketika pemimpin dan warga berdiri di tempat yang sama.(1kabar.com/inn0101/splwo)





