Subulussalam |1kabar.com. Senin, 16 Februari 2026 Sejumlah tokoh di Kota Subulussalam melontarkan kritik keras terhadap gaya komunikasi dan pernyataan Wali Kota Subulussalam berinisial HRB yang dinilai semakin memperkeruh suasana politik daerah.
Pernyataan HRB yang disebut-sebut “meludah ke langit, bertepuk air di Singkil, goyang gunung di Subulussalam” memantik reaksi publik. Ungkapan tersebut dianggap sebagai bentuk ketidakyakinan terhadap lembaga pengawasan internal pemerintah, termasuk Inspektorat sebagai auditor resmi di lingkungan pemerintahan daerah.
Ketua DPD LSM Tipikor Kota Subulussalam, Hasan Gerinci, menilai pernyataan tersebut seolah menunjukkan hilangnya kepercayaan terhadap mekanisme pengawasan yang ada, bahkan terkesan meragukan aparat penegak hukum di daerah.
“Kalau ada persoalan, seharusnya diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Bangun koordinasi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Duduk bersama legislatif dan unsur pimpinan daerah lainnya. Bukan justru melontarkan pernyataan yang menimbulkan kegaduhan,” tegas Hasan.
Ia juga menyoroti kesan bahwa HRB tidak lagi menaruh kepercayaan penuh kepada aparat penegak hukum seperti Polres Subulussalam dan Kejaksaan Negeri Subulussalam. Menurutnya, jika benar demikian, hal itu menjadi sinyal serius atas disharmonisasi di tubuh pemerintahan daerah.
Hasan menegaskan, DPRK sebagai lembaga legislatif juga memiliki visi dan misi untuk membangun daerah, bukan hanya eksekutif. Oleh karena itu, perbedaan pandangan antara legislatif dan eksekutif seharusnya menjadi ruang diskusi, bukan panggung konflik terbuka.
“Kita menghimbau agar dilakukan komunikasi intensif antara eksekutif, legislatif, dan Forkopimda. Saatnya membangun daerah dengan kebersamaan. Jangan sibuk dengan narasi dan pencitraan. Masyarakat butuh solusi nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, dinamika politik yang terjadi belakangan ini harus menjadi momentum evaluasi bersama. Pemerintah daerah diminta lebih bijak dalam menyikapi kritik dan tidak memperuncing keadaan dengan pernyataan-pernyataan kontroversial.
“Subulussalam ini milik bersama. Membangun daerah butuh sinergi, bukan saling sindir. Jika komunikasi berjalan baik, perbedaan bukan ancaman, melainkan kekuatan,” pungkas Hasan.





