BeritaDaerah

Sebanyak 15 Bend Dan Musisi Dari Berbagai Penjuru Indonesia Suarakan Krisis Iklim Lewat Musik

267
×

Sebanyak 15 Bend Dan Musisi Dari Berbagai Penjuru Indonesia Suarakan Krisis Iklim Lewat Musik

Sebarkan artikel ini

Bali, | 1Kabar.com

musisi dan band dari penjuru Indonesia seperti Efek Rumah Kaca, Petra Sihombing dan Voice of Baceprot (VOB) berkumpul di Bali pekan lalu dan menyatakan komitmennya untuk menyuarakan isu krisis iklim lewat karya musik.senin(8/7/2014)

Para musisi Ini mengikuti kegiatan lokakarya bertajuk “Aktivisme Musik dan Lingkungan” yang diadakan oleh IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab). Selama 5 hari, mereka berpartisipasi dalam sesi interaktif bersama organisasi dan pakar lingkungan serta musisi yang tergabung di inisiatif IKLIM sejak tahun sebelumnya.

Kelima belas musisi yang turut serta dalam IKLIM 2024 adalah Asteriska, Bsar, Daniel Rumbekwan, Bachoxs, Down For Life, Efek Rumah Kaca, Jangar, Las!, Matter Mos, Petra Sihombing, Poker Mustache, Rhosy Snap, The Vondaliz, Voice of Baceprot, dan Wake Up Iris.

Kegiatan ini merupakan tahun kedua lokakarya IKLIM diadakan dan melibatkan musisi yang lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal ini dapat dicapai karena IKLIM sebelumnya telah mengadakan panggilan terbuka untuk menjaring musisi berbakat dari seluruh Indonesia yang peduli dan ingin menyuarakan isu krisis iklim.

Baca juga Artikel ini  Video Viral yang Beredar di Medsos Perlihatkan Seorang Warga Sampaikan Keluhannya Terkait Program MBG yang Diterima Anaknya di Wilayah Tembung

Sebagai hasilnya, sebanyak 15 musisi dari berbagai aliran musik, termasuk rock, metal, pop, hip-hop, folk, dan psikadelia telah terpilih dari sembilan kota di Indonesia, seperti Jakarta, Makassar, Pontianak, Madiun, Malang, Bandung, Solo, Fakfak dan Bali.

Salah satu penggagas IKLIM, I Gede Robi dari band Navicula, menjelaskan bahwa inisiatif IKLIM pertama kali digagas pada tahun 2023 dengan melibatkan 13 musisi, seperti Iga Massardi, Endah N Rhesa, Navicula, dan Tuantigabelas. Pada tahun tersebut, para musisi merilis album kompilasi bertajuk ‘sonic/panic’ sebagai cara kreatif untuk menyebarkan pesan kesadaran lingkungan kepada masyarakat.

“Musisi memiliki tugas untuk menciptakan lagu yang dapat membentuk opini publik sehingga isu ini menjadi skala prioritas perbincangan di masyarakat. Jika semakin banyak dibicarakan, akan terbentuk kebijakan atau regulasi yang mendukung. Sinergi kita melalui musik ini bertujuan untuk membentuk opini publik, terutama mengenai krisis iklim,”
ungkap Robi di konferensi pers yang digelar di Biji World, Ubud pada tanggal 4 juli 2024.

Baca juga Artikel ini  Kapolrestabes Medan Kawal Unjuk Rasa Pengamanan Menjadi Pelayanan dari Ruang Rapat Hingga Jalanan Kota, Pesan Damai Mengakhiri Aksi Tanpa Gesekan

Menurutnya, upaya kolektif yang konsisten sangat diperlukan agar semakin banyak musisi terlibat dalam menyuarakan isu ini sehingga memberikan dampak yang luas.

Vania Marisca dari duo Wake Up Iris mengungkapkan rasa senangnya dapat terlibat dalam IKLIM tahun ini dan mengikuti lokakarya. “Di lokakarya ini, kita dipaparkan dari bermacam-macam hal, sebagai musisi kami melihatnya sebagai kesempatan untuk mengolah data itu dengan cara kreatif agar tersampaikan ke khalayak lebih luas.”

Lokakarya ini ditutup dengan aktivitas penanaman pohon di area Gianyar sebagai bentuk tanggung jawab musisi terhadap emisi karbon yang dihasilkan untuk menghadiri dan selama beraktivitas di Bali.

Selanjutnya, seluruh musisi yang terlibat dalam lokakarya akan menciptakan karya musik dengan pesan kesadaran lingkungan dan krisis iklim. Hasil
kolaborasi ini rencananya akan diluncurkan di penghujung tahun 2024.

Baca juga Artikel ini  KPK Tahan Pejabat Bea dan Cukai Terkait Pengembangan Penyidikan OTT Kasus Tindak Pidana Korupsi Importasi Barang di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

Sebelumnya IKLIM ini
Dibentuk pada tahun 2023, The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab (IKLIM) merupakan sebuah kolektif musisi dan seniman yang peduli terhadap isu iklim dan bertujuan untuk mengajak masyarakat agar peduli dan mengutamakan isu perubahan iklim lewat seni dan musik.

Tentang latar belakang Music Declares Emergency indonesia
Music Declares Emergency (MDE) Indonesia adalah sebuah kolektif yang terdiri dari seniman, profesional, dan individu industri musik, serta organisasi yang berkomitmen untuk melindungi kehidupan di bumi

Indonesia menjadi negara Asia pertama yang tergabung dalam gerakan global ini. Dengan slogan “No Music on a Dead Planet”, atau tidak ada musik di planet mati, gerakan global ini telah didukung oleh artis internasional seperti Billie Eilish, Thom Yorke dari Radiohead, Massive Attack, Tom Morello dari Rage Against The Machine, Jarvis Cocker dari Pulp, Kevin Parker dari Tame Impala, dan masih banyak lagi.(van)