BeritaBerita TerkiniDaerahNasionalPemerintahPendidikanPolitikPolriTNI

Tokoh Masyarakat Sumut Djumongkas Hutagaol : Selamatkan Peradaban Masyarakat Batak, Tutup Toba Pulp Lestari

140
×

Tokoh Masyarakat Sumut Djumongkas Hutagaol : Selamatkan Peradaban Masyarakat Batak, Tutup Toba Pulp Lestari

Sebarkan artikel ini

MEDAN | 1kabar.com

Tokoh Masyarakat Sumatera Utara, Djumongkas Hutagaol menyampaikan keprihatinannya atas keberadaan PT. Toba Pulp Lestari (TPL) yang saat ini semakin dinilai “brutal” dalam menginvasi areal pertanian, tanah adat maupun hutan di kawasan seputaran Tapanuli dan Danau Toba. Ia sangat setuju dengan tuntutan tutup Toba Pulp Lestari (TPL) yang saat ini gencar disuarakan elemen masyarakat termasuk Ephorus HKBP dan seluruh pucuk pimpinan denominasi gereja.

“Saya sangat heran dan mempertanyakan apa yang menjadi dasar hukum PT. Toba Pulp Lestari (TPL) bisa menginvasi lahan-lahan rakyat hingga ke Tapanuli Selatan, Kabupaten Simalungun dan lainnya. Mereka ini terkesan leluasa sekali bahkan menggunakan cara-cara kekerasan,” tegas Djumongkas Hutagaol kepada wartawan di Kantor PT. Medan Bus di Jalan Menteng VII Nomor : 115 Medan, Selasa (28/10/2025).

Ia menguatirkan jika PT. Toba Pulp Lestari (TPL) terus melanjutkan invasi lahan dengan cara-cara brutal akan memunculkan perlawanan serta konflik tajam. Apalagi terkesan konflik yang terjadi kurang mendapat tanggapan dari pihak terkait.

Baca juga Artikel ini  Kejari Deli Serdang Selamatkan Kerugian Keuangan Negara Sebesar Rp. 7 Miliar Lebih dari Beberapa Perkara Tindak Pidana Korupsi

Djumongkas mendesak Presiden RI, Prabowo dan Ketua DPR RI, DPD RI, Mendagri serta Kementerian terkait segera merespon tuntutan penutupan Toba Pulp Lestari (TPL) dengan membentuk Tim Investigasi Independen. Tim ini diharap bekerja cepat, komprehensif sehingga penutupannya tidak memunculkan persoalan sosial seperti masalah pesangon dan lainnya.

“Tapi patut dicatat, tim ini dibentuk dengan tujuan akhir PT. Toba Pulp Lestari (TPL) ditutup dan tidak memunculkan keguncangan sosial,” ucapnya.

Sebagai Tokoh SSA (Setia Sampai Akhir) HKBP di Era Ephorus Pdt. DR. SAE Nababan dan Pentolan Agresu (Aliansi Gerakan Reformasi Sumatera Utara), Djumongkas mengaku dirinya terharu mengenang kisah di Era Tahun 1997-1998. Di kala itu Ephorus HKBP Pdt. DR. SAE Nababan dan Pimpinan HKBP serta seluruh Pendeta menyuarakan penutupan Toba Pulp Lestari (TPL) karena melihat dampak negatif yang dirasakan masyarakat sekitar.

Baca juga Artikel ini  DPD AGPAII Kota Langsa Gelar Maulid Akbar, Ajak Guru PAI Perkuat Solidaritas.

Suara yang sama saat ini kembali diperjuangkan Ephorus HKBP bahkan didukung seluruh pucuk pimpinan denominasi gereja hingga pastor. Fenomena ini tidak boleh dianggap hal biasa tetapi harus dipandang sebagai masalah serius.

“Saya sebagai Warga Kristen memandang apa yang disuarakan para Pendeta adalah sebuah suara kenabian. Ini bukan masalah politis tetapi soal menjaga keberlangsungan hidup masyarakat di kawasan Tapanuli dan Danau Toba. Soal menjaga ekologi serta ekosistem serta peradaban Suku Batak,” tegasnya.

Djumongkas mengenang bahwa apa yang mereka perjuangkan dahulu bersama pendeta, aktivis lingkungan serta para mahasiswa adalah perjuangan menyelematkan peradaban Suku Batak di tanah leluhurnya.

Disebutnya mereka dahulu berjuang tanpa pamrih dan tidak bisa diiming-iming oleh perusahaan demi mengalihkan perjuangan. Dia mengenang pernah diundang owner PT. Toba Pulp Lestari (TPL) Sukamto Tanoto ke kantornya yang berupaya menegosiasikan aksi Mahasiswa. Namun ia yang datang bersama Jhon Eron Lumban Gaol dan Paltak Sitorus tetap bersikukuh dengan tuntutan tutup Toba Pulp Lestari (TPL).

Baca juga Artikel ini  Lebih Seru,!, CFD Dipadati Ribuan Warga Lubuk Pakam, Libatkan Pelaku UMKM

Ia berharap seluruh Elemen Masyarakat, Buruh, Mahasiswa, Aktivis serta Pemerhati untuk bergerak bersama para pendeta yang kini berada di depan dalam menuntut tutup Toba Pulp Lestari (TPL).

“Semangat dan hasrat saya ingin kembali turun ke jalan. Tetapi di usia yang sudah 78 Tahun hal itu tidak.mungkin saya lakukan lagi. Harapan saya muncullah tokoh-tokoh muda militan yang mau berjuang demi menyelamatkan peradaban masyarakat Batak,” sebut Djumongkas Hutagaol dengan nada haru.(***)