Penulis : Chaidir Toweren
1kabar.com – – Kabut tipis turun perlahan menyelimuti dataran tinggi Takengon. Angin dingin dari Danau Laut Tawar berhembus lembut, menggoyangkan ilalang di tepian danau yang sunyi. Malam itu, bulan hanya tampak separuh, sementara suara jangkrik bersahut-sahutan memecah kesunyian kampung kecil di tanah Gayo.
Orang-orang tua di sana percaya, ketika malam terlalu hening dan kabut turun lebih cepat dari biasanya, itu pertanda ada makhluk lama yang sedang mengintai dari balik gelap. Makhluk itu dikenal dengan nama Lembide.
Konon, Lembide bukan sekadar hantu atau penunggu biasa. Ia adalah makhluk gaib yang telah hidup sejak zaman nenek moyang Gayo. Wujudnya tak pernah tetap. Kadang menyerupai perempuan berambut panjang dengan wajah pucat, kadang berubah menjadi tikar hanyut di atas permukaan danau, bahkan sesekali menjelma suara tangisan yang memanggil-manggil dari kejauhan.
Di sebuah kampung dekat Danau Laut Tawar, hiduplah seorang pemuda bernama Aman Gayo. Ia dikenal berani dan sering menentang cerita-cerita tua yang dipercaya masyarakat.
“Itu hanya dongeng orang dulu,” katanya suatu malam di warung kopi.
Orang-orang tua hanya saling pandang. Seorang kakek bernama Awan Leman lalu berpesan pelan.
“Jangan sombong pada hal yang tak terlihat. Tanah ini punya penjaganya sendiri.”
Namun Aman hanya tertawa kecil.
Malam berikutnya, Aman memutuskan pergi memancing seorang diri ke tepi danau. Kabut turun begitu cepat. Air danau terlihat hitam dan tenang seperti tanpa dasar. Saat ia sedang memasang umpan, matanya tertuju pada sesuatu yang mengapung perlahan di tengah air.
Sebuah tikar tua.
Tikar itu bergerak mendekat tanpa terbawa ombak.
Aman mulai merasa aneh. Angin tiba-tiba berhenti. Suara malam mendadak hilang. Yang tersisa hanya bunyi air kecil di sekitar tikar itu.
Perlahan, tikar tersebut terbuka sendiri.
Dari dalamnya muncul sosok perempuan tinggi berambut panjang menjuntai hingga menyentuh air. Wajahnya pucat, matanya hitam kosong menatap lurus ke arah Aman.
Tubuh Aman seketika kaku.
Perempuan itu tidak berjalan di atas tanah. Ia melayang perlahan mendekat sambil berbisik dengan suara lirih yang sulit dipahami.
“Aman… pulanglah…”
Pemuda itu mencoba berlari, namun langkahnya terasa berat. Semakin ia menjauh, suara bisikan itu semakin dekat di telinganya. Hingga akhirnya ia terjatuh di tepian danau dan pingsan.
Keesokan paginya, warga menemukan Aman dalam keadaan lemah dengan wajah pucat ketakutan. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi menertawakan cerita rakyat yang diwariskan orang tua.
Sebelum meninggal beberapa tahun kemudian, Aman sempat berkata kepada anak-anak muda di kampungnya:
“Tidak semua yang hidup di dunia ini bisa dilihat mata. Hormatilah alam dan jangan angkuh pada tanah yang kita pijak.”
Hingga kini, legenda Lembide masih hidup di tengah masyarakat Gayo. Sebagian percaya ia hanyalah dongeng pengantar malam. Namun sebagian lainnya yakin, di balik dinginnya Danau Laut Tawar dan kabut pegunungan Takengon, sosok itu masih ada menjadi penjaga sunyi tanah Gayo yang tak ingin dilupakan zaman.
Mohon maaf bila ada kesamaan nama pada peran di cerita pendek ini, tujuan penulis hanya ingin membudayakan dongeng sebagai budaya Indonesia yang sudah mulai memudar dimasa sekarang.












