Cerpen  

Cinta Pertama Tak Harus Dimiliki

1Kabar.com

Ada cinta yang datang untuk menemani perjalanan. Ada pula cinta yang hadir hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.

Yuni adalah cinta pertamaku.

Aku mengenalnya ketika masih duduk di bangku SMA. Saat itu hidup terasa sederhana. Kebahagiaan bisa ditemukan dari secarik surat, senyum di balik jendela kelas, atau perjalanan pulang sekolah yang sengaja diperlambat agar kebersamaan terasa lebih lama.

Yuni adalah gadis yang membuat masa remajaku berwarna. Senyumnya mampu menghapus lelah, tawanya menjadi musik yang selalu ingin kudengar setiap hari. Aku mencintainya dengan cara paling tulus yang mampu dilakukan seorang remaja.

Kami berpacaran hampir tiga tahun.
Tiga tahun yang dipenuhi mimpi-mimpi sederhana. Kami sering berbicara tentang masa depan. Tentang rumah kecil yang akan kami bangun suatu hari nanti. Tentang anak-anak yang mungkin akan berlari-lari di halaman. Tentang kehidupan yang akan kami jalani bersama.

Saat itu aku begitu yakin.

Bagiku, Yuni bukan sekadar kekasih. Ia adalah tujuan dari semua perjuangan yang sedang kurintis. Aku rela menahan lapar demi menabung untuk membelikannya hadiah ulang tahun. Aku rela berjalan jauh hanya untuk melihatnya beberapa menit. Bahkan aku rela mengorbankan banyak hal karena percaya bahwa suatu hari nanti kami akan bersama selamanya.
Namun hidup sering kali memiliki cerita yang berbeda dari harapan manusia.

Suatu sore yang mendung, Yuni meminta bertemu.

Aku datang dengan perasaan biasa saja. Tak ada firasat buruk. Tak ada tanda-tanda bahwa hari itu akan menjadi salah satu hari paling menyakitkan dalam hidupku.

Kami duduk berhadapan.

Yuni lebih banyak diam.

Tatapannya berbeda. Tidak sehangat biasanya.

“Aku ingin kita cukup sampai di sini,” katanya pelan.

Aku terdiam.

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tanpa hujan.

“Apa salahku?” tanyaku.

Ia menggeleng.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa?”

Yuni kembali menggeleng.

Tak ada jawaban yang benar-benar menjelaskan alasan perpisahan itu.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada orang ketiga yang kuketahui.

Hanya sebuah keputusan yang jatuh begitu saja.

Dan sejak hari itu, dunia terasa tidak adil.

Aku berjalan seperti orang kehilangan arah. Hari-hari terasa panjang dan sepi. Aku terbiasa mengirim pesan setiap pagi, lalu tiba-tiba tak ada lagi yang harus disapa. Aku terbiasa mendengar suaranya setiap malam, lalu mendadak hanya ada kesunyian.
Aku mencoba melupakan.

Tapi bagaimana mungkin seseorang bisa melupakan orang yang selama ini ia jadikan masa depan?

Berkali-kali aku bertanya pada diriku sendiri.

Apa kurangku?

Apa salahku?

Mengapa cinta yang kujaga dengan sepenuh hati harus berakhir tanpa alasan yang kumengerti?

Waktu berjalan.

Musim berganti.

Luka perlahan mengering meski bekasnya tetap ada.
Hingga suatu hari aku mendengar kabar yang membuat dada kembali sesak.

Yuni akan menikah.

Aku membaca undangan  yang diantar langsung oleh diri nya kepada ku dengan tangan gemetar.

Nama pengantin pria tertera jelas.
Seorang anak saudagar yang berasal dari keluarga terpandang dan berkecukupan.

Saat itu aku hanya bisa tersenyum pahit.

Ternyata benar.

Tidak semua orang yang kita cintai akan menjadi milik kita.

Malam sebelum pernikahannya, aku duduk sendiri di teras rumah. Hujan turun perlahan seperti ikut memahami isi hatiku.

Dalam diam, aku mengenang semua kenangan yang pernah kami lalui.

Tentang pertama kali menggenggam tangannya.

Tentang senyum malu-malunya saat kuberikan bunga sederhana.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah kami rajut bersama.

Semua kini tinggal kenangan.
Aku beranikan diri datang ke pesta pernikahannya.

Bukan karena aku tak marah, atau kuat.

Aku hanya ingin buktikan bahwa aku tidak pernah berbuat salah dan merasa salah akan keputusan perpisahan aku dan dia. belum

Dan Hari itu, aku juga mendoakan diri nya.

Semoga ia bahagia.

Semoga lelaki yang dipilihnya mampu menjaganya lebih baik daripada yang pernah kubayangkan.

Karena pada akhirnya, cinta bukan selalu tentang memiliki.

Cinta sejati kadang justru terlihat ketika kita mampu merelakan seseorang pergi demi kebahagiaannya.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, nama Yuni masih tersimpan rapi di sudut kenanganku.

Ia tetap menjadi cinta pertama yang tak pernah bisa kuhapus sepenuhnya.
Bukan karena aku masih menunggunya.

Tetapi karena bersamanya aku belajar bahwa cinta paling tulus sekalipun tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.

Ada kisah yang memang ditakdirkan hanya menjadi kenangan.

Dan Yuni adalah kenangan terindah sekaligus luka terdalam yang pernah dimiliki hatiku.

Sebab cinta pertama memang tidak selalu menjadi cinta terakhir.
Namun ia akan selalu menjadi bagian dari cerita yang tak pernah benar-benar selesai di dalam hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *