Hujan turun perlahan di sore itu. Butiran air membasahi kaca jendela sebuah kedai kopi yang berada di sudut kota. Osa duduk sendiri, menatap jalanan yang mulai lengang. Secangkir kopi di hadapannya sudah dingin, tetapi pikirannya masih hangat oleh kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.
Sudah hampir dua puluh delapan tahun berlalu sejak terakhir kali ia menggenggam tangan perempuan yang pernah menjadi alasan ia tersenyum dan setiap menyambut pagi.
Namanya Sri.
Cinta pertama yang gagal menjadi cinta terakhir.
Osa kini telah memiliki keluarga yang bahagia. Seorang istri yang setia dan tiga anak yang sedang menempuh pendidikan.
Begitu juga Sri. Ia telah menjadi ibu dari tiga orang anak dan hidup bersama suaminya di kota yang berbeda.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Perasaan itu.
Bukan lagi cinta yang menuntut untuk memiliki, bukan pula cinta yang ingin merusak kebahagiaan orang lain.
Perasaan itu telah tumbuh menjadi kenangan yang hidup diam-diam di sudut hati mereka.
Malam itu, ponsel Osa bergetar.
Sebuah pesan masuk.
“Bagaimana kabarmu?”
Ia tersenyum tipis.
Nomor itu sudah sangat dikenalnya.
Sri.
Pesan sederhana yang selalu mampu membuat waktu seolah mundur bertahun-tahun ke belakang.
“Baik. Semoga kamu juga bahagia.”
Tak lama balasan datang.
“Aku bahagia. Tapi beberapa kenangan memang tidak pernah hilang.”
Osa memejamkan mata.
Kalimat itu seperti membuka kembali album lama yang selama ini tersimpan rapi.
Dulu mereka pernah merencanakan masa depan bersama. Bermimpi membangun rumah kecil, memiliki anak-anak yang lucu, dan menua dalam kebersamaan.
Namun hidup memiliki jalannya sendiri.
Perbedaan keadaan, restu keluarga yang tak pernah datang, serta orang ketiga hadir mendekati orang tua nya yang semakin memisahkan dan membuat mereka akhirnya menyerah pada takdir.
Mereka menikah dengan orang lain.
Waktu berlalu
Tahun demi tahun berganti.
Tetapi ada bagian kecil dalam hati mereka yang tetap menyimpan nama satu sama lain.
Bukan untuk disesali.
Bukan untuk diperjuangkan kembali.
Melainkan untuk dikenang.
“Apa kamu masih mencintaiku?” tanya Sri melalui pesan berikutnya.
Osa lama memandangi layar ponselnya.
Pertanyaan sederhana yang jawabannya begitu rumit.
Akhirnya ia mengetik perlahan.
“Aku mencintai hidup yang kumiliki hari ini. Aku mencintai keluargaku. Tapi jika yang kamu tanyakan adalah apakah aku pernah berhenti menyayangimu, jawabannya tidak.”
Beberapa menit tidak ada balasan.
Lalu muncul satu pesan.
“Aku juga.”
Tak ada lagi percakapan setelah itu.
Karena mereka sama-sama tahu, cinta tidak selalu harus memiliki akhir yang sempurna.
Ada cinta yang hadir hanya untuk mengajarkan arti kehilangan.
Ada cinta yang gagal menjadi pasangan, tetapi berhasil menjadi kenangan terindah.
Malam semakin larut.
Osa menutup ponselnya dan menatap langit yang mulai cerah setelah hujan.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus bersamanya.
Kadang-kadang, cinta sejati adalah ketika dua hati tetap saling menyayangi dari kejauhan, menjaga batas yang benar, dan mendoakan kebahagiaan masing-masing.
Sri akan selalu menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Begitu pula dirinya dalam hidup Sri.
Mereka mungkin tidak ditakdirkan berjalan beriringan.
Namun di dalam hati, ada ruang kecil yang akan selalu berbisik lembut:
“Aku pernah mencintaimu. Dan mungkin, sampai kapan pun, sebagian dari perasaan itu akan tetap tinggal di sana.”
Tamat.












