Nama Bobby Nasution Disebut di Persidangan Pengadilan Tipikor Medan, Mahasiswa Desak KPK Keluarkan Sprindik Baru Kasus Jalan Sumut dan DJKA

Teks Foto : Diskusi publik bertajuk, "Ngopi Bareng Tanpa Gula," dengan tema, "Menjaga Integritas Proses Hukum di Sumatera Utara - Kasus Jalan dan Direktorat Jenderal Kereta Api," yang digelar di Cafe Coriz, Jalan HM Jhoni, Medan, pada Sabtu (24/10/2026)/(Doks Foto/Istimewa/1kabar.com/Pujo)

1kabar.com — MEDAN | Gerakan Mahasiswa Peduli Transparansi Sumatera Utara (GMPET-SU) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) baru dalam kasus Korupsi Proyek Infrastruktur Jalan di Sumatera Utara (Sumut) dan Proyek Jalur Kereta Api Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan Wilayah Medan.

Desakan itu disampaikan dalam diskusi publik bertajuk, “Ngopi Bareng Tanpa Gula,” dengan tema, “Menjaga Integritas Proses Hukum di Sumatera Utara – Kasus Jalan dan Direktorat Jenderal Kereta Api,” yang digelar di Cafe Coriz, Jalan HM Jhoni, Medan, pada Sabtu (24/10/2026).

Ketua Gerakan Mahasiswa Peduli Transparansi Sumatera Utara (GMPET-SU), Rahmad Ritonga, menyatakan penerbitan surat perintah penyidikan (Sprindik) baru diperlukan untuk mendorong pengusutan yang profesional dan menyeluruh terhadap dua perkara tersebut.

“Berdasarkan hasil diskusi ini, kita meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan sprindik baru dalam dua kasus korupsi tersebut,” tegas Rahmad dihadapan sejumlah wartawan disela-sela diskusi publik bertajuk, Ngopi Bareng Tanpa Gula,” dengan tema, “Menjaga Integritas Proses Hukum di Sumatera Utara – Kasus Jalan dan Direktorat Jenderal Kereta Api,” yang digelar di Cafe Coriz, Jalan HM Jhoni, Medan, pada Sabtu (24/10/2026).

Menurutnya, penanganan perkara korupsi tidak boleh berhenti pada pihak-pihak yang telah diproses dan dijatuhi hukuman.

“Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) perlu memastikan seluruh dugaan keterlibatan pihak lain ditelusuri berdasarkan bukti. Itulah sebabnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk menerbitkan sprindik baru,” kata Rahmad.

Diskusi tersebut menghadirkan Direktur Lembaga Independen Pemerhati Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, Aktivis 1998 sekaligus Jurnalis Tempo Sahat Simatupang, dan Advokat Andreas Bresman Sinambela.

Dalam forum itu, Sahat menyoroti proses persidangan perkara korupsi proyek infrastruktur jalan di Sumatera Utara.

Ia mengaku mengikuti langsung Persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan dan mendengar Majelis Hakim meminta Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution sebagai saksi.

“Saya meliput langsung persidangan di Pengadilan Tipikor Medan. Saya mendengar dengan jelas Majelis Hakim memberikan perintah terbuka kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menghadirkan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution untuk didengar keterangannya sebagai saksi,” ungkap Sahat.

Ia mengatakan, berdasarkan catatan liputannya, Majelis Hakim tidak pernah mencabut atau meralat perintah tersebut hingga persidangan berakhir.

Sementara itu, dalam pembahasan kasus korupsi Proyek Jalur Kereta Api Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan wilayah Medan, Andreas Bresman Sinambela yang disebut sebagai bagian dari Tim Kuasa Hukum Eddy Kurniawan Winarto, menilai kliennya menjadi korban dalam perkara tersebut.

Dalam diskusi itu, muncul pula sorotan terhadap pihak-pihak lain yang disebut berkaitan dengan perkara Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA), antara lain mantan Menteri Perhubungan, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Lokot Nasution, dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Akbar Himawan Buchari.

Perlu ditegaskan, penyebutan nama-nama tersebut dalam forum diskusi tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan mereka dalam tindak pidana. Keterlibatan seseorang hanya dapat ditentukan berdasarkan bukti hukum dan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Namun dalam diskusi, peserta menilai peran pihak-pihak tersebut penting untuk ditelusuri secara profesional, apalagi jika dibandingkan dengan peran Eddy Kurniawan Winarto yang menurut pengakuannya hanya sebagai penghubung.

Rahmad mengatakan, Gerakan Mahasiswa Peduli Transparansi Sumatera Utara (GMPET-SU) mengangkat kedua kasus tersebut karena menyangkut transparansi dan integritas penegakan hukum di Sumatera Utara (Sumut).

Ia mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerja profesional dalam mengusut dugaan korupsi, termasuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain berdasarkan bukti yang tersedia.

Dalam diskusi itu, peserta juga menyoroti vonis terhadap Eddy Kurniawan Winarto dalam perkara DJKA. Eddy disebut menerima uang Rp. 10,9 miliar dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Adapun dalam perkara korupsi proyek infrastruktur jalan di Sumatera Utara (Sumut), Topan Obaja Ginting, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Sumatera Utara, disebut divonis lima tahun enam bulan penjara.

Gerakan Mahasiswa Peduli Transparansi Sumatera Utara (GMPET-SU) berharap diskusi tersebut menjadi ruang kontrol publik terhadap penanganan perkara korupsi.

“Penegakan hukum harus dilakukan secara transparan, profesional, dan berkeadilan, tanpa mengabaikan penelusuran terhadap pihak lain yang didukung bukti hukum,” pungkas Rahmad.(1kbr/mdn/pj40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *