NasionalOpini

“Momentum Hari Guru” Menilisik Bahasa Guru Tanpa Tanda Jasa, Masih Pas Kah ?

531
×

“Momentum Hari Guru” Menilisik Bahasa Guru Tanpa Tanda Jasa, Masih Pas Kah ?

Sebarkan artikel ini

Editor : Chaidir Toweren

Bila kita membaca kalimat pahlawan tanpa tanda jasa, yang termenset dipikiran kita sudah tentu kalimat tersebut di tujukan pada profesi seorang Guru.

Banyak seniman menggambarkan kehidupan sederhana dalam sebuah lagu, digambarkan sudah tentu kehidupan profesi seorang Guru, sebagai contoh seniman Iwan fals, menciptakan lagu Guru Oemar Bakri,
Atau Hymne Guru karya Sartono.

Siapapun kita, yang pernah merasakan bangku sekolah pasti pernah menyanyikan lagu “HymneGuru” tersebut.

Lagu Hymne Guru tersebut wajib dinyanyikan disekolah, terutama pada waktu upacara peringatan hari-hari pendidikan, termasuk hari guru. Bahkan seringkali ketika lagu itu dinyanyikan hati kita merasa haru, dan tanpa sadar kelopak mata berlinang dan penuh dengan airmata.

Betapa tidak, seorang guru yang dengan sangat sederhana mencurahkan segala tenaga, hati dan pikiran, hanya untuk menjadikan murid berilmu pengetahuan dan mencerdaskan generasi bangsa.

Sebuah pengabdian yang sungguh berarti. sepertinya tidak berlebihan jika kita mengatakan guru adalah pintu utama menuju gerbang kesuksesan, karena Guru yang mengenakan kita akan huruf, kata, kalimat dan kesempurnaan bahasa.

Baik buruknya seorang guru bisa di cerminkan disaat dia mendidik. Guru yang memberikan contoh teladan yang baik akan selalu dikenang kebaikanya. Namun guru yang tidak pantas dicontoh baik perilaku maupun ucapanya maka selamanya akan dikenang keburukanya oleh siswa. Gurulah yang paling berjasa dalam membimbing peserta didik dengan penuh kesabaran, ketekunan dan keteladanan.

Baca juga Artikel ini  Wujudkan Zero Halinar, Petugas Rutan I Medan Kanwil Kemenkumham Sumut Berhasil Menggagalkan Penyelundupan Barang Terlarang Diduga Narkotika Jenis Ganja Kering

Tapi yang menjadi Pertanyaan, sudah sejauh mana kita memaknai
“Hymne Guru”? Sudahkah kita benar-benar menghidupkan nama mereka dalam sanubari kita?
Atau hanya isapan manis dari mulut belaka? Padahal ditangan guru-lah para ilmuan itu lahir, berbagai prestasi itu terukir. Kesuksesan seseorang tidak terlepas dari sang pahlawan pendidikan yaitu guru.

Sosok tersebut yang tak kenal lelah dan letih dalam mencetak generasi-generasi penerus bangsa. Sosok yang selalu dikagumi akan keilmuan yang dimiliki.

Dari guru-lah segala sumber kebutuhan ilmu didapatkan. Bahkan bisa dikata sebagai sumber primer dari segala pengetahuan. Namun di era yang serba teknologi seperti sekarang ini, peran seorang guru terasa tergantikan dengan derasnya arus teknologi dan informasi. Hadirnya internet mau tidak mau menjadi kompetitor terhadap guru. Internet dengan segala kecanggihannya mampu menampilkan keinginan pengguna terhadap aneka konten baik berbentuk naratif, foto, dan video.

Kecanggihan teknologi sekarang mampu memanjakan peserta didik untuk kemudian lebih percaya hasil informasi di google dari pada informasi guru. Akhirnya guru tanpa jasa akan selamanya menjadi slogan yang hanya dikenang kepahlawananya dan tidak lagi muncul dipermukaan.

Teknologi dan informasi kita telah menjalar memasuki berbagai bidang kehidupan manusia, hingga menjadikan guru yang berjasa di zaman now menjadi suatu pertanyaan. Dan slogan namamu akan selalu hidup dalam sanubariku juga tinggal kenangan yang tergerus oleh zaman. Belum lagi akhlak dan sifat peserta didik sekarang yang cenderung lebih berani kepada guru.

Baca juga Artikel ini  Tim Patroli Presisi Sat Samapta Polres Tanah Karo Mengoptimalkan Patroli Siang Hari Ke Area Publik

Bagi yang sekolah pada tahun 90an mungkin pernah bahkan sering mengalami atau mendapatkan hukuman dari guru jika melakukan pelangaran.

Banyak yang dihukum untuk berdiri didepan kelas, dijewer telinga jika tidak tertib dan masih banyak lagi hukuman yang diterima. Namun beda dengan hari ini, seperti hukum sudah berbalik, hanya menertibkan seragam yang tidak masuk guru dipukul, hanya karena menertibkan siswa yang bolos banyak guru jadi korban bahkan dikeroyok orang tuanya, belum lagi ada yang melaporkan ke pihak kepolisian karena diduga menganiaya.
Sungguh ironis kejadian yang dialami oleh para guru kita hari ini.

Sepertinya jargon “Guru: Di gugu dan Di
Tiru” hanya sebagai isapan jempol belaka, lebih-lebih menjadi pahlawan yang selalu di kenang rasanya masih sangat jauh panggang daripada api. Tantangan tersebut didukung oleh UU 14/2005. Bunyinya, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Menurut hemat penulis, Beban guru hari ini sangat berat dengan tanggung jawab yang besar tentunya perlu penghargaan yang lebih dari semua kalangan. Mulai dari siswa, orangtua wali, sesasama guru, pemangku kebijakan dan pemerintah terkait.

Baca juga Artikel ini  Sat Samapta Polres Simalungun Amankan Sidang Terdakwa di Pengadilan Negeri Simalungun

Selain itu harkat dan martabat seorang guru dewasa ini perlu untuk direkonstruksi ulang supaya keberadaanya dan pengabdianya menjadi seorang guru bermakna bagi peserta didik. Selain itu perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah kepada status seorang guru supaya mendapatkan hak pengakuan ditengah arus digitalisasi dan disrupsi saat ini. Karena pada akhirnya, jasa guru yang sedemikian besar tidaklah terukur oleh apapun. Sedangkan sekadar ungkapan “terimakasih” tidaklah berarti jika tidak ada pemaknaan dan perhatian yang mendalam dalam jiwa kita.

Dari sisi ekonomi para guru saat ini, sudah beranjak dari kata sederhana menjadi kata berkecukupan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan bagi pahlawan tanpa tanda jasa tersebut dengan memberikan tambahan penghasilan dengan sebutan sertifikasi, dimana besaran tambahan penghasilan sertifikasi seorang guru bisa setara dengan gaji yang ia terima setiap bulannya.
Terkait menset sederhana selalu di lekatkan pada profesi seorang Guru masih bisa di sandangkan atau sebaliknya, tergantung kita memaknai nya.

Akhirnya, pada hari peringatan HGN tahun 2023 ini kita semua berharap semoga semua yang berjuang dalam pendidikan dapat mengatasi arus digitalisasi yang sedang berkembang dan menemukan solusi dalam kemelut arus tantangan zaman.

Dikutip dari beberapa tulisan yang diangkat kembali oleh penulis