1kabar.com – – Kabut tipis turun perlahan menyelimuti sebuah Kampung di tepian Danau. Udara pagi yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun bagi Didir, dingin itu tak seberapa dibanding gelisah yang terus menggerogoti dadanya.
Ia berdiri di dermaga kecil sambil memandangi riak air danau yang tenang. Dalam genggaman tangannya, terselip selembar surat lusuh milik Ivana, gadis yang selama ini mengisi seluruh ruang di hatinya.
“Aku takut, Dir… adat di kampung ini terlalu kuat untuk kita lawan.”
Kalimat itu masih terngiang jelas.
Didir dan Ivana saling mengenal sejak kecil. Mereka tumbuh bersama di kampung yang sama, belajar mengaji di surau yang sama, bahkan sering bermain di kebun kopi milik keluarga mereka.
Seiring waktu, rasa persahabatan berubah menjadi cinta yang diam-diam tumbuh begitu dalam.
Namun cinta mereka ternyata tak semudah cerita dalam dongeng.
Didir berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanyalah petani kopi biasa. Sedangkan Ivana adalah anak seorang tokoh terpandang di kampung.
Dalam adat keluarganya, seorang perempuan harus menikah dengan laki-laki yang dianggap “sepadan” dalam martabat dan keturunan.
Dan Didir tidak termasuk di dalamnya.
“Ayah sudah memilihkan jodoh untukmu,” ujar ibunda Ivana suatu malam.
Ivana menunduk. Air matanya jatuh perlahan.
“Bu… Ivana mencintai Didir .”
Ibunya menghela napas panjang.
“Cinta saja tidak cukup, Nak. Kita hidup dalam adat. Ada aturan yang harus dijaga.”
Kalimat itu seperti pisau yang perlahan mengiris hati Ivana .
Hari demi hari berlalu. Didir mencoba menemui ayah Ivana untuk menyampaikan niat baiknya. Dengan pakaian sederhana dan tangan gemetar, ia datang bersama ibunya.
Namun sambutan yang diterima begitu dingin.
“Kami bukan merendahkanmu, Dir,” ucap sang ayah pelan. “Tapi adat kampung ini sudah ada sejak nenek moyang. Tidak bisa diubah hanya karena cinta.”
Didir menunduk.
“Apakah salah jika saya mencintai putri bapak dengan tulus?”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Tak ada jawaban.
Hanya suara angin yang menerpa jendela kayu rumah panggung itu.
Sejak hari itu, Didir mulai menjauh. Ia memilih merantau ke kota demi melupakan luka yang terus menghantui. Sedangkan Ivana hanya bisa memendam rindu dalam diam.
Waktu berjalan begitu cepat.
Tiga tahun kemudian, Didir kembali ke kampung.
Kini ia telah menjadi seorang Jurnalis yang cukup dikenal.
Banyak orang menghormatinya.
Namun satu hal yang tak pernah berubah, cintanya kepada Ivana .
Malam itu, di sebuah acara adat kampung, mata mereka kembali bertemu.
Ivana masih sama.
Tatapan lembut itu masih menyimpan rasa yang belum selesai.
“Apa kabar?” tanya Ivana lirih.
Didir tersenyum tipis.
“Baik… meski tidak benar-benar baik.”
Ivana menahan air mata.
“Aku belum menikah.”
Didir terdiam.
“Kenapa?”
“Karena hatiku masih tinggal padamu.”
Kalimat itu membuat dada Didir sesak.
Namun semuanya telah terlambat.
Ayah Ivana telah jatuh sakit.
Keluarganya tetap memegang teguh adat yang selama ini dijaga. Dan Aisyah, sebagai anak perempuan satu-satunya, tak ingin dianggap durhaka.
Di bawah cahaya bulan yang menggantung di atas Danau, mereka duduk berdampingan tanpa banyak kata.
Kadang cinta memang bukan tentang memiliki.
Kadang cinta hadir hanya untuk mengajarkan bahwa hati manusia bisa kalah oleh aturan yang diwariskan turun-temurun.
Didir memandang danau yang tenang.
“Aku pernah membencinya,” ucapnya pelan. “Adat yang memisahkan kita.”
Ivana tersenyum pahit.
“Tapi tanpa adat itu… mungkin kampung ini sudah kehilangan jati dirinya.”
Didir menoleh.
“Lalu bagaimana dengan kita?”
Ivana menarik napas panjang.
“Kita adalah cerita… yang tidak pernah diberi kesempatan untuk selesai.”
Angin malam kembali berhembus.
Membawa pergi suara mereka bersama luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dan sejak malam itu, Kampung Tersebut kembali sunyi.
Namun orang-orang selalu percaya, di tepian Danau, masih ada dua hati yang saling mencintai… tetapi dikalahkan oleh adat dan tradisi. The end
Langsa, 25 May 2026 Penulis : Chaidir Toweren












