ACEH SINGKIL– 1kabar.com. unculnya pemberitaan yang hanya berisi puja-puji terhadap Kepala Desa Ketangkuhan menuai kritik keras. Di tengah berbagai persoalan yang masih menjadi sorotan masyarakat, publik justru mempertanyakan independensi media yang memilih menyajikan narasi sanjungan tanpa mengulas substansi kritik yang berkembang.
Media seharusnya menjalankan fungsi kontrol sosial, bukan berubah menjadi corong pencitraan pejabat. Ketika sebuah pemberitaan lebih banyak dipenuhi pujian daripada upaya menggali fakta secara berimbang, wajar jika masyarakat mempertanyakan profesionalisme di balik karya jurnalistik tersebut.
Kritik terhadap pejabat publik tidak dapat dihapus hanya dengan menerbitkan berita tandingan yang penuh sanjungan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah jawaban yang transparan, data yang dapat diuji, dan penjelasan atas berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik.
Sejumlah kalangan menilai ada oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan namun lebih mengedepankan pemberitaan yang menguntungkan pihak tertentu daripada menjalankan fungsi pengawasan. Jika benar demikian, praktik semacam itu justru mencederai marwah pers dan merusak kepercayaan masyarakat terhadap profesi wartawan secara keseluruhan.
Profesi wartawan adalah profesi yang mulia. Namun, jika ada oknum yang memanfaatkan profesinya untuk kepentingan pribadi atau mengabaikan prinsip independensi, maka tindakan tersebut patut dikritik. Pers yang kuat adalah pers yang berani mengungkap fakta, bukan pers yang hanya menyajikan pujian kepada penguasa.
Pada akhirnya, masyarakat mampu menilai sendiri mana pemberitaan yang lahir dari kerja jurnalistik yang independen dan mana yang lebih menyerupai ruang promosi. Kepercayaan publik tidak dibangun dengan sanjungan, tetapi dengan keberanian menyampaikan fakta secara jujur, berimbang, dan bertanggung jawab.
Redaksi: 1kabar.com Syahbudin Padang Wakil Ketua DPW FRN Fast Respon Counter Polri Nusantara Provinsi Aceh












