OPINI  

BANON Perempuan Bangsa :  Ketangguhan Perempuan Mampu Mengukir Sejarah

Penulis : Chaidir Toweren

1kbar.com — Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai perjuangan, keberanian, pengorbanan, dan inspirasi yang tetap relevan untuk menjawab tantangan zaman. Salah satu kisah yang layak kembali diangkat ke ruang publik adalah perjuangan Laksamana Malahayati, sosok perempuan tangguh asal Aceh yang namanya tercatat dalam sejarah perlawanan terhadap penjajahan bangsa Eropa. Kisah perjuangannya kini kembali mendapat perhatian melalui pengangkatan sosoknya ke layar film kolosal, yang mengingatkan kita pada keberanian pasukan perempuan dalam mempertahankan tanah air.

Ada catatan sejarah yang menarik sekaligus menggugah kesadaran kita tentang makna ketangguhan perempuan. Laksamana Malahayati dikenal sebagai pemimpin armada laut Kesultanan Aceh pada akhir abad ke-16. Ia memimpin pasukan Inong Balee, sebuah kekuatan yang terdiri atas perempuan-perempuan tangguh, termasuk mereka yang kehilangan suami dalam pertempuran. Mereka tidak membiarkan kesedihan melemahkan semangat perjuangan. Sebaliknya, mereka menjadikan duka sebagai kekuatan, kehilangan sebagai keberanian, dan pengorbanan sebagai alasan untuk terus memperjuangkan kehormatan serta kedaulatan tanah air.

Kisah ini menyampaikan pesan yang jauh melampaui zamannya. Para perempuan dalam pasukan Inong Balee membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar pihak yang harus dilindungi, melainkan juga mampu menjadi pelindung. Mereka bukan hanya menyaksikan sejarah, tetapi turut menentukan arah sejarah melalui keberanian dan pengorbanan.

Dalam kehidupan sosial, perempuan kerap dihadapkan pada stigma dan pandangan yang membatasi ruang geraknya. Perempuan dianggap lemah, terlalu mengandalkan orang lain, atau hanya pantas berada di belakang layar. Padahal, sejarah Aceh telah memberikan bukti nyata bahwa perempuan mampu berada di garis depan perjuangan. Laksamana Malahayati dan pasukannya mengajarkan bahwa kekuatan perempuan tidak ditentukan oleh keadaan hidupnya, melainkan oleh keberanian, kapasitas, integritas, dan kemampuannya untuk bangkit menghadapi tantangan.

Semangat sejarah itulah yang semestinya kita hidupkan dalam kehidupan berbangsa dan berorganisasi hari ini. Perempuan tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan, menyampaikan gagasan, memimpin organisasi, serta berkontribusi dalam menentukan masa depan masyarakat.

Semangat tersebut juga menjadi inspirasi bagi DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Langsa dalam membangun dan memperkuat organisasi perempuan melalui Perempuan Bangsa.

Perempuan Bangsa bukan sekadar nama, bukan sekadar sayap partai, dan bukan pula sekadar struktur organisasi untuk memenuhi kebutuhan administratif. Perempuan Bangsa harus menjadi ruang perjuangan, ruang pemberdayaan, dan ruang pengabdian bagi perempuan untuk mengambil peran nyata dalam perubahan.

Jika dahulu Laksamana Malahayati menghimpun kekuatan para perempuan untuk mempertahankan tanah air dari ancaman penjajahan, hari ini Perempuan Bangsa menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi tidak kalah penting. Perjuangan itu dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi keluarga, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengembangan kepemimpinan perempuan, serta keterlibatan aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat.

Di Kota Langsa, Perempuan Bangsa harus mampu hadir dekat dengan masyarakat. Kehadirannya tidak cukup hanya terlihat dalam kegiatan seremonial atau momentum politik tertentu. Organisasi ini perlu tumbuh bersama perempuan dari berbagai latar belakang, mendengarkan persoalan yang mereka hadapi, membangun solidaritas, serta menghadirkan program yang memberikan manfaat nyata.

Perempuan yang memiliki keterbatasan ekonomi harus memperoleh dukungan untuk meningkatkan kemandirian. Perempuan muda harus mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi kepemimpinan. Para ibu perlu dilibatkan dalam membangun keluarga yang tangguh dan masyarakat yang sehat. Perempuan yang selama ini suaranya kurang terdengar harus memperoleh kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dan ikut menentukan kebijakan yang menyangkut kehidupan mereka.

Di sinilah ukuran keberhasilan Perempuan Bangsa seharusnya diletakkan: bukan pada seberapa besar nama organisasi digaungkan, melainkan pada seberapa banyak perempuan yang diberdayakan, bukan pada seberapa sering kegiatan dilaksanakan, melainkan pada seberapa nyata perubahan yang dihasilkan.

Membangun organisasi perempuan tentu bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan komitmen, konsistensi, solidaritas, dan keberanian untuk keluar dari pola pikir lama yang membatasi peran perempuan. Perempuan juga harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja bersama demi tujuan yang lebih besar.

DPC PKB Kota Langsa memiliki kesempatan untuk menjadikan Perempuan Bangsa sebagai wadah yang melahirkan kader-kader perempuan berintegritas, berwawasan, berdaya saing, dan memiliki kepedulian sosial. Kader perempuan yang tidak hanya hadir ketika dibutuhkan organisasi, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungan keluarga, masyarakat, dan pemerintahan.

Pada akhirnya, sejarah Laksamana Malahayati mengingatkan kita bahwa ketangguhan perempuan bukanlah slogan yang cukup diucapkan. Ketangguhan itu harus dibuktikan melalui tindakan, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan bersama.

Jika dahulu para perempuan Aceh berjuang mempertahankan tanah air, hari ini perempuan dapat meneruskan semangat perjuangan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pengabdian sosial, serta kepemimpinan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Dari pasukan Inong Balee, kita belajar bahwa kesulitan tidak harus melahirkan kelemahan. Dari Laksamana Malahayati, kita belajar bahwa perempuan mampu memimpin dan mengukir sejarah. Dan melalui Perempuan Bangsa, kita ingin membuktikan bahwa semangat perjuangan itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus hidup dalam gerakan nyata perempuan di Kota Langsa.

Sebab, perempuan bukan sekadar bagian dari sejarah. Perempuan adalah penentu sejarah. Dan Perempuan Bangsa harus menjadi ruang tempat perempuan berani berdiri, bergerak, memimpin, serta menghadirkan perubahan bagi masa depan yang lebih baik.

Catatan : Penulis adalah ketua DPC PKB kota Langsa periode 2026-2031

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *