JAKARTA/1Kabar.com
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen tahun 2027 yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai langkah optimistis sekaligus realistis,dan ini menjadi peluang besar untuk mempertegas posisinya sebagai kekuatan ekonomi baru di kawasan.
Arief Martha Rahadyan dalam tanggapannya menyampaikan target pertumbuhan ekonomi merupakan indikator kemampuan negara dalam menciptakan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat secara menyeluruh.
Pertumbuhan ekonomi esensinya terletak pada sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu memperluas kesempatan kerja, memperkuat kelas menengah, mengurangi ketimpangan, dan menghadirkan rasa aman ekonomi bagi masyarakat,” ujar Arief Martha Rahadyan
Optimisme Presiden Prabowo Subianto terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,8–6,5 persen harus dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia tengah diarahkan menuju fase transformasi ekonomi yang lebih produktif, adaptif, dan berorientasi jangka panjang.
Dalam pandangan Arief, terdapat sejumlah prasyarat strategis agar target tersebut dapat tercapai secara kredibel, mulai dari percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, transformasi digital, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu menjawab perubahan lanskap ekonomi global.
Di tengah dinamika geopolitik dunia, tekanan inflasi global, dan fragmentasi ekonomi internasional, Indonesia membutuhkan fondasi ekonomi yang tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga tahan terhadap guncangan. Stabilitas fiskal dan keberanian melakukan reformasi produktif menjadi kata kunci,” katanya.
Arief juga menyarankan bahwa kebijakan fiskal yang prudent harus tetap dibarengi keberanian pemerintah memperluas investasi produktif pada sektor-sektor strategis yang memiliki efek berganda tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurutnya, investasi pada pendidikan, teknologi, pangan, kesehatan, dan industrialisasi berbasis nilai tambah merupakan bentuk pembangunan jangka panjang yang tidak hanya memperkuat angka pertumbuhan, tetapi juga memperbesar kapasitas daya saing Indonesia di masa depan.
Ekonomi yang sehat bukan sekadar bertambah besar, melainkan bertambah adil, produktif, dan mampu menjaga martabat masyarakatnya. Karena, ukuran keberhasilan pembangunan terletak pada kualitas hidup rakyat, bukan sekadar statistik pertumbuhan,” tutupnya












