Klaim Capai 80 Persen Progres Revitalisasi SMPN 35 Takengon, Ternyata Fakta Lapangan Berkata Lain

Aceh Tengah-1kabar.com

Klaim progres Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di SMP Negeri 35 Takengon yang disebut telah mencapai 80 persen menuai perhatian. Pasalnya, hasil pantauan Wartawan media 1kabar.com di lokasi pada Sabtu (1/8/2026) memperlihatkan masih banyak item pekerjaan yang belum memasuki tahap penyelesaian (finishing), sementara masa pelaksanaan proyek tinggal menghitung hari.

Program revitalisasi yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut memiliki nilai bantuan pemerintah sebesar Rp2.401.000.000. Kegiatan berada di bawah Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dengan waktu pelaksanaan 150 hari kerja, terhitung April hingga Agustus 2026.

Pekerjaan dilaksanakan melalui mekanisme swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang dibentuk oleh kepala sekolah.

Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan meliputi pembangunan dua bangunan baru, yakni ruang Administrasi/Laboratorium Komputer dan ruang Laboratorium. Selain itu, dilakukan rehabilitasi empat ruang kelas belajar (RKB), tiga unit rumah dinas, serta satu ruang Laboratorium IPA.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan progres fisik masih menyisakan sejumlah pekerjaan penting.

Di bangunan Ruang Administrasi/Laboratorium Komputer, pekerja masih melakukan pemasangan keramik. Sementara pemasangan plafon belum dimulai, pintu dan jendela belum terpasang, serta pekerjaan pengecatan belum dilakukan sehingga bangunan masih jauh dari kondisi akhir.

Pada bangunan Laboratorium, pekerja masih mengerjakan plafon. Dari pengamatan wartawan, bagian rangka maupun pengikat plafon terlihat bergelombang sehingga tampak kurang rapi. Selain itu, lantai keramik, pintu, jendela hingga pengecatan juga belum dikerjakan.

Sementara pada empat ruang kelas yang direhabilitasi, pemasangan jendela masih berlangsung. Beberapa kusen dan daun jendela terlihat belum terpasang presisi. Di sisi lain, plafon masih dalam proses, sedangkan atap UPVC pada salah satu ruang kelas juga belum dipasang.

Tidak hanya itu, satu ruangan hingga kini belum dapat dikerjakan karena masih difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang.

Dengan kondisi tersebut, muncul pertanyaan mengenai kesesuaian antara klaim progres 80 persen dengan kondisi fisik pekerjaan yang masih menyisakan cukup banyak item utama, terutama pada pekerjaan finishing yang umumnya membutuhkan ketelitian dan waktu penyelesaian.

Kepala SMP Negeri 35 Takengon, Hasbi Yamin, S.Pd.I, mengatakan keterlambatan sebelumnya dipengaruhi kelangkaan semen. Namun, menurutnya, seluruh material kini telah tersedia sehingga pekerjaan dapat dipercepat.

“Saat ini kendala sudah tidak ada karena material sudah lengkap. Kemarin hanya terkendala semen karena sempat langka, tetapi sekarang semen sudah tersedia,” ujarnya kepada wartawan.

Ia memastikan pihaknya berupaya menyelesaikan proyek tanpa perpanjangan waktu.

“Sekarang sedang dikebut. Kita tidak mau adendum meskipun dalam aturan diperbolehkan. Saat ini tinggal sekitar 10 orang pekerja, sebelumnya ada 18 orang, sebagian sudah pulang ke Medan. Insyaallah tanggal 20 Agustus selesai 100 persen,” kata Hasbi.

Menurutnya, pengawasan terus dilakukan agar pekerjaan selesai sesuai target dan memenuhi mutu yang dipersyaratkan.

“Harapan kita revitalisasi SMP Negeri 35 Takengon selesai tepat waktu dan tepat mutu. Kita terus tekankan kepada pengawas agar mengawasi pekerjaan dengan baik,” ujarnya.

Di tengah proses pembangunan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Berdasarkan pantauan wartawan, 24 siswa untuk sementara mengikuti pembelajaran di ruang Laboratorium IPA yang dialihfungsikan menjadi ruang kelas.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah dengan Perpres Nomor 12 Tahun 2021, pelaksanaan swakelola menekankan tercapainya hasil pekerjaan sesuai spesifikasi, mutu, biaya, dan waktu yang telah ditetapkan. Karena itu, kesesuaian antara persentase progres yang dilaporkan dengan kondisi fisik di lapangan menjadi bagian penting yang patut diawasi hingga proyek dinyatakan selesai dan siap dimanfaatkan masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *