Aceh Tengah-1kabar.com
Kesenjangan akses internet masih dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Salah satunya masyarakat Desa Atu Gajah Reje Guru, Kecamatan Bebesen, yang hingga kini mengaku belum mendapatkan layanan jaringan seluler secara memadai.
Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sejak desa berdiri. Warga bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri untuk mendapatkan akses internet melalui perangkat Starlink.
Helmi, salah seorang warga Atu Gajah Reje Guru, mengatakan masyarakat membayar sekitar Rp230.000 per bulan untuk layanan Starlink, di luar biaya pemasangan sekitar Rp500.000.
“Sejak adanya desa ini, jaringan tidak ada. Kami terpaksa membeli Starlink agar bisa merasakan akses internet,” ujar Helmi.
Menurut dia, warga sebelumnya juga pernah menggunakan sejumlah layanan internet berbasis modem dan kabel, seperti NetOne dan Aikonek. Namun, kebutuhan terhadap jaringan seluler tetap belum teratasi.
Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut melalui pemerintah desa untuk diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Namun, hingga kini belum ada pembangunan menara telekomunikasi di wilayah tersebut.
Helmi mengatakan, warga juga pernah mendapat informasi bahwa pembangunan menara telekomunikasi mempertimbangkan jumlah pelanggan.
“Katanya belum mencukupi jumlah penduduk. Minimal harus ada sekitar 1.000 pelanggan baru bisa dibangun tower,” kata Helmi, menirukan informasi yang diterima warga dari pihak operator.
Kondisi itu semakin menyulitkan warga ketika terjadi pemadaman listrik. Sebab, akses internet yang digunakan warga turut terputus.
“Kalau listrik mati, jaringan juga ikut mati. Kami kesulitan menghubungi keluarga di luar desa, terutama saat ada kemalangan, acara tertentu atau hal penting yang membutuhkan komunikasi cepat,” ujarnya.
Kepala Desa Atu Gajah Reje Guru, Salmiah, membenarkan persoalan tersebut. Ia mengatakan wilayah desanya terdiri atas tiga dusun, yakni Dusun Wih Tenang, Dusun Atu Gajah dan Dusun Pantan Peseng.
Menurut Salmiah, persoalan jaringan bukan hal baru bagi masyarakat.
“Memang sejak lama tidak ada jaringan internet di kampung kita. Selama ini warga yang ingin mendapatkan akses internet harus memasang Wi-Fi masing-masing,” kata Salmiah.
Ia mengatakan pihak desa telah menyampaikan usulan pembangunan tower kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Dinas Kominfo.
Namun, solusi yang diberikan sejauh ini lebih banyak berupa akses internet berbasis Starlink. Menurut Salmiah, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena biaya paket dinilai terlalu mahal.
“Informasinya sekitar Rp750.000 per bulan. Sementara dari dana desa tidak ada pos anggaran khusus untuk itu,” ujarnya.
Salmiah berharap pemerintah dapat menghadirkan jaringan telekomunikasi yang lebih permanen sehingga masyarakat tidak terus bergantung pada biaya internet mandiri.
“Harapan kami ada tower jaringan di Atu Gajah Reje Guru agar masyarakat bisa mendapatkan akses komunikasi dan internet yang layak,” katanya.(*)













