Muktamar NU ke-35 Rekomitmen Kolektif Menghidupkan Warisan Para Nabi

Teks Foto : Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Prof. Dr. Arifuddin Muda Harahap, M.Hum/(Doks Foto/Istimewa/1kabar.com/Kota Medan)

MEDAN | 1kabar.com

Marilah kita memanjatkan doa semoga Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, berlangsung lancar, aman, khidmat, dan penuh keberkahan.

Bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), Muktamar bukan sekadar momentum memilih Pimpinan baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Lebih dari itu, Muktamar adalah ruang untuk melakukan refleksi dan rekomitmen kolektif : bagaimana Nahdlatul Ulama (NU) harus hadir lebih cepat membaca perubahan, lebih tepat menjawab persoalan, lebih inovatif menemukan solusi, dan lebih nyata memberi manfaat bagi umat, rakyat, dan bangsa.

Rasulullah SAW. bersabda, khairunnâsi anfa’uhum linnâs—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Maka, jika prinsip ini kita bawa ke dalam kehidupan organisasi, dapat dikatakan : sebaik-baik perkumpulan adalah perkumpulan yang paling besar manfaatnya bagi umat dan masyarakat.

Karena itu, keberhasilan Nahdlatul Ulama (NU) tidak semata-mata diukur dari besarnya struktur, banyaknya kegiatan, atau ramainya forum. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh Nahdlatul Ulama (NU) hadir menjawab persoalan nyata dan menghadirkan kemaslahatan.

•Menghidupkan Warisan Para Nabi.

Nahdlatul Ulama (NU) berarti kebangkitan para ulama. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan al-‘ulamâ’u waratsatu al-anbiyâ’—ulama adalah pewaris para nabi.

Maka Nahdlatul Ulama (NU) semestinya tidak hanya menjadi tempat berhimpunnya para ulama, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk menghidupkan nilai dan kerja-kerja kenabian dalam kehidupan nyata.

Para nabi tidak hadir hanya untuk menyampaikan nasihat. Mereka hadir di tengah umat, membaca persoalan, memberi petunjuk, menghadapi ketidakadilan, menawarkan solusi, dan menggerakkan perubahan.

Karena itu, menjadi pewaris nabi berarti hadir ketika umat membutuhkan, berpikir ketika umat mengalami kebuntuan, dan bekerja ketika masyarakat membutuhkan jalan keluar.

Setiap kader Nahdlatul Ulama (NU), apa pun profesi dan bidang keahliannya, memiliki ruang untuk mewarisi semangat tersebut. Kader di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, politik, kesehatan, teknologi, pertanian, maupun bidang lainnya dapat menghadirkan nilai-nilai kenabian melalui profesinya.

Dengan demikian, warisan kenabian tidak berhenti sebagai simbol spiritual, tetapi menjadi kerja nyata untuk kemaslahatan umat dan bangsa.

•Nahdlatul Ulama Harus “Nongkrongin Umat.”

Semangat tersebut harus diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana : Nongkrongin Umat, Nungguin Umat, dan Nanyain Umat.

Nongkrongin Umat berarti hadir dan duduk bersama mereka. Nungguin Umat berarti memastikan Nahdlatul Ulama (NU) tidak meninggalkan mereka ketika menghadapi persoalan.

Nanyain Umat berarti mau mendengar dan memahami apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Umat tidak cukup dibicarakan dalam rapat. Umat harus ditemui. Tidak cukup dibuatkan program. Umat harus didengarkan.

Karena itu, Pimpinan Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh hanya merumuskan kebijakan dari ruang kerja, pesantren, atau masjid. Mereka harus turun ke tengah masyarakat: mendengar petani, nelayan, buruh, guru, pelaku usaha kecil, generasi muda, perempuan, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.

Dari sanalah persoalan nyata terlihat. Dari sana pula solusi yang tepat dapat dirumuskan.

•Dari Bahtsu al-Masâ’il Menuju Wushûlu al-Hashâ’il.

Nahdlatul Ulama (NU) memiliki tradisi intelektual yang kuat melalui Bahtsu al-Masâ’il: mengkaji persoalan, membaca turats, menimbang dalil, dan merumuskan keputusan.

Tradisi ini harus dipertahankan. Tetapi tantangan zaman menuntut satu langkah lebih jauh : dari Bahtsu al-Masâ’il menuju Wushûlu al-Hashâ’il.

Tidak cukup hanya pandai merumuskan masalah. Tidak cukup pula menghasilkan keputusan dan rekomendasi. Umat membutuhkan hasil. Umat membutuhkan solusi.

Karena itu, Nahdlatul Ulama (NU) harus mampu mengubah ilmu menjadi kebijakan, keputusan menjadi tindakan, dan khidmat menjadi kemanfaatan. Inilah salah satu pekerjaan besar kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) ke depan.

•Pemimpin yang Menggerakkan Kolektivitas.

Pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) tentu harus memiliki kedalaman ilmu dan kesalehan. Tetapi itu saja tidak cukup.

Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan pemimpin yang mampu membangun kolektivitas, menyatukan potensi, menggerakkan kader, menjembatani perbedaan, dan memastikan keputusan organisasi benar-benar sampai kepada umat.

Nahdlatul Ulama (NU) terlalu besar untuk digerakkan oleh satu atau dua orang. Nahdlatul Ulama (NU) adalah kekuatan kolektif. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar pemimpin yang kuat, tetapi kepemimpinan yang membuat seluruh kader menjadi kuat dan bergerak bersama.

Muktamar, dengan demikian, bukan hanya forum memilih siapa yang memimpin Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar adalah forum menentukan arah khidmat Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi masa depan.

Para kandidat yang muncul tentu merupakan kader terbaik yang lahir dari proses panjang pengabdian. Karena itu, pilihan harus diletakkan diatas kejernihan berpikir, kedewasaan, doa, dan kepentingan yang lebih besar: kemaslahatan Nahdlatul Ulama (NU), umat, rakyat, dan bangsa.

Setelah Muktamar selesai, tidak boleh ada lagi jarak antara yang memilih dan yang terpilih. Tidak ada lagi kubu yang menang dan kalah. Yang ada adalah satu barisan, satu amanah, dan satu tanggung jawab.

Pada akhirnya, warisan para nabi bukan sekadar sesuatu yang kita kenang, tetapi sesuatu yang harus kita hidupkan.

Ilmu harus menjadi amal.
Kesalehan harus menjadi pelayanan.
Keputusan harus menjadi tindakan.
Dan organisasi harus menjadi jalan menghadirkan kemaslahatan.

Mari jadikan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 sebagai momentum rekomitmen kolektif untuk semakin dekat dengan umat: Nongkrongin Umat, Nungguin Umat, dan Nanyain Umat.

Kita rawat tradisi Bahtsu al-Masâ’il, tetapi kita pastikan ia sampai pada Wushûlu al-Hashâ’il—dari pembahasan menuju hasil, dari keputusan menuju solusi, dari khidmat menuju manfaat.

Sebab Nahdlatul Ulama (NU) tidak cukup hanya membicarakan masa depan. Nahdlatul Ulama (NU) harus hadir, bekerja, dan ikut menentukan masa depan.

Semoga Allah SWT. memberikan petunjuk dan keberkahan kepada seluruh peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, serta menghadirkan kepemimpinan yang mampu merawat warisan, membaca zaman, menggerakkan umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.(1kbr/mdn/nn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *