JAKARTA|1Kabar.com
Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp18.134 per dolar Amerika Serikat menjadi peringatan serius bagi seluruh pemangku kepentingan ekonomi nasional. Meski demikian, langkah cepat dan kepastian dari Bank Indonesia mengenai kondisi cadangan devisa yang dinyatakan masih aman patut diapresiasi sebagai bentuk menjaga stabilitas psikologis pasar dan kepercayaan publik.
Pengamat kebijakan publik dan ekonomi pembangunan, Arief Martha Rahadyan, B.Sc., M.Sc., menilai tekanan terhadap rupiah harus menjadi refleksi atas ketahanan fundamental ekonomi nasional.
Pelemahan rupiah tentu memberi tekanan terhadap biaya impor, sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri, hingga potensi kenaikan harga kebutuhan masyarakat. Namun di sisi lain, situasi ini harus menjadi momentum memperkuat kemandirian ekonomi nasional, mempercepat hilirisasi, serta memperluas substitusi impor,” ujar Arief.
Stabilitas ekonomi harus membutuhkan penguatan sektor riil, produktivitas nasional, dan keberanian memperluas basis ekonomi domestik agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.
Arief juga mengingatkan bahwa kepercayaan investor dan pelaku usaha sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan pemerintah, kepastian hukum ekonomi, serta kemampuan negara menjaga iklim investasi yang sehat di tengah tekanan global.
Ketika tekanan eksternal meningkat, negara harus hadir memberi kepastian. Optimisme ekonomi tidak boleh dibangun hanya lewat narasi, tetapi melalui langkah nyata yang mampu memperkuat daya tahan masyarakat dan dunia usaha,” tegasnya.
Arief berharap momentum tekanan rupiah dapat menjadi alarm strategis untuk memperkuat struktur ekonomi nasional, sehingga Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi turbulensi global, tetapi juga tumbuh lebih resilien dan berdaya saing dalam jangka panjang.












