Hari Lahir Pancasila dalam Kacamata Jurnalis: Menjaga Api Kebangsaan Melalui Kebenaran

Caption : Ketua Persatuan Wartawan Kota Langsa (PERWAL) mengucapkan selamat hari lahir Pancasila

1Kabar.com – – Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin hanya menjadi agenda seremonial tahunan dengan upacara dan pidato kenegaraan. Namun bagi seorang jurnalis, Hari Lahir Pancasila memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar momentum mengenang sejarah, melainkan refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila terus hidup dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jurnalis adalah saksi zaman. Melalui pena, kamera, dan karya jurnalistiknya, seorang wartawan merekam perjalanan bangsa dari waktu ke waktu. Dalam menjalankan tugas tersebut, jurnalis sejatinya sedang mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Ketika menyampaikan informasi yang benar, mengedepankan keadilan, menghormati keberagaman, dan menjaga persatuan, di situlah Pancasila hadir dalam praktik jurnalistik.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan pentingnya moral dan etika dalam setiap karya jurnalistik. Seorang wartawan tidak hanya dituntut cerdas mencari berita, tetapi juga harus memiliki integritas dan tanggung jawab moral terhadap informasi yang disampaikan kepada publik.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menjadi fondasi dalam menghormati hak-hak narasumber dan masyarakat. Jurnalis harus menghindari pemberitaan yang merendahkan martabat manusia, menyebarkan kebencian, atau memicu diskriminasi terhadap kelompok tertentu.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi dan media sosial yang sering kali memecah belah masyarakat. Pers memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi perekat bangsa, bukan sebaliknya menjadi alat yang memperuncing perbedaan dan konflik.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, tercermin dalam fungsi pers sebagai pilar demokrasi. Jurnalis menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah, menyampaikan aspirasi masyarakat sekaligus mengawasi jalannya kekuasaan demi kepentingan publik.

Sementara sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi semangat bagi jurnalis untuk terus mengangkat suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Pers tidak boleh hanya menyoroti mereka yang memiliki kekuasaan dan akses, tetapi juga harus memberi ruang bagi rakyat kecil yang membutuhkan perhatian.

Di era digital saat ini, tantangan jurnalisme semakin kompleks. Hoaks, disinformasi, fitnah, dan manipulasi informasi menyebar begitu cepat. Dalam kondisi seperti ini, nilai-nilai Pancasila justru semakin dibutuhkan sebagai kompas moral. Jurnalis dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat. Tidak hanya viral, tetapi juga faktual.

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum bagi insan pers untuk kembali mengingat bahwa tugas jurnalistik bukan sekadar mencari sensasi atau mengejar klik pembaca. Lebih dari itu, pers memiliki tanggung jawab menjaga akal sehat publik dan memperkuat fondasi kebangsaan.

Pancasila bukan hanya milik pemerintah, bukan pula sekadar teks yang dibacakan dalam upacara. Pancasila adalah nilai yang harus hadir dalam setiap tindakan, termasuk dalam setiap berita yang ditulis dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Sebagai jurnalis, memaknai Hari Lahir Pancasila berarti memperkuat komitmen untuk terus menyuarakan kebenaran, menjaga independensi, dan berdiri di pihak kepentingan rakyat. Sebab selama masih ada jurnalis yang berani menulis fakta dan menyampaikan kebenaran, selama itu pula api Pancasila akan tetap menyala di bumi Indonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Mari menjaga Indonesia dengan kata, karya, dan kebenaran.

Penulis : Chaidir Toweren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *