Menanggapi Sorotan Hasil Pekerjaan Proyek Masjid Mendale, Pemilik CV Laut Tawar Berjanji Akan Memperbaiki

Aceh Tengah-1kabar.com

Pemilik CV Laut Tawar, Sakura Langgo, merespons sorotan terhadap hasil pekerjaan penataan halaman Masjid Mendale yang menjadi salah satu proyek penunjang destinasi wisata Danau Laut Tawar. Ia mengakui terdapat beberapa bagian pekerjaan yang masih kurang rapi dan menyatakan telah memerintahkan pekerja di lapangan untuk segera melakukan perbaikan.

“Terkait pemberitaan, kami mengapresiasi karena menjadi bahan evaluasi bagi kami selaku pemilik perusahaan. Kami sudah memerintahkan pekerja di lapangan agar segera memperbaiki item pekerjaan yang dimaksud,” kata Sakura Langgo kepada wartawan di Cafe SMEA Premium, Takengon, Jumat (7/8/2026).

Sakura menjelaskan, meskipun terdapat pihak yang menjadi penyandang modal dalam pelaksanaan proyek tersebut, seluruh tanggung jawab tetap berada pada CV Laut Tawar sebagai perusahaan pelaksana.

“Secara administrasi memang perusahaan saya. Jika terjadi sesuatu dalam pekerjaan ini, seluruh tanggung jawab kembali kepada CV Laut Tawar sebagai pelaksana proyek,” ujarnya.

Menurut Sakura, proyek penataan Masjid Mendale merupakan bagian dari program Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dalam mendukung pengembangan kawasan wisata, termasuk wisata religi di sekitar Danau Laut Tawar. Selain di Mendale, pemerintah juga melakukan penataan pada sejumlah titik di wilayah lain sebagai penunjang sektor pariwisata.

Sakura Langgo menjelaskan, ruang lingkup pekerjaan yang dikerjakan CV Laut Tawar meliputi pemasangan paving block, pemasangan kanopi, serta pengecatan dinding masjid.

Menanggapi temuan wartawan terkait permukaan paving yang tampak bergelombang, tidak rata, dan adanya sejumlah paving yang terlihat cacat, Sakura mengaku telah meninjau langsung lokasi pekerjaan.

“Saya sudah turun ke lapangan. Kami sudah memerintahkan tukang untuk memperbaiki bagian-bagian pekerjaan yang dinilai kurang rapi. Jika ada paving block yang cacat atau tidak layak digunakan, tentu akan kami ganti,” katanya.

Ia juga menegaskan seluruh pekerjaan dilaksanakan mengacu pada spesifikasi teknis dan ketentuan yang tercantum dalam kontrak.

“Kami bekerja sesuai spesifikasi dan kontrak yang berlaku. Itu menjadi pedoman kami dalam melaksanakan pekerjaan,” ujarnya.

Terkait kemungkinan keterlambatan penyelesaian proyek, Sakura mengatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan mengajukan adendum waktu kepada dinas terkait. Menurut dia, pelaksanaan pekerjaan saat ini menghadapi sejumlah kendala, terutama kelangkaan material bangunan dan meningkatnya harga bahan di Aceh Tengah.

“Harga semen saat ini sekitar Rp105 ribu per sak, padahal sebelumnya berkisar Rp85 ribu. Selain itu, upah tenaga kerja juga mengalami kenaikan,” katanya.

Beliu menambahkan, distribusi material juga terkendala akibat sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut berdampak pada operasional truk pengangkut material yang harus mengantre dalam waktu lama di SPBU.

“Pengiriman material menjadi terhambat karena kendaraan pengangkut harus mengantre BBM. Ini berpengaruh terhadap kelancaran pekerjaan di lapangan,” ujarnya.

Menurut Sakura, kelangkaan semen dan BBM tidak hanya dirasakan oleh perusahaannya, tetapi juga menjadi persoalan yang dihadapi banyak pelaku jasa konstruksi di Aceh Tengah. Ia menyebut pemerintah daerah bahkan telah melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah toko bangunan dan SPBU untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

Di sisi lain, Sakura menegaskan pihaknya tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan sesuai spesifikasi kontrak meskipun menghadapi berbagai kendala di lapangan.

Beliu juga berharap proyek penataan Masjid Mendale dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan wisata religi di Aceh Tengah.

“Bagi kami, mengerjakan pembangunan masjid juga merupakan bagian dari pengabdian. Sedekah bukan hanya dalam bentuk uang, tetapi juga tenaga dan pemikiran agar hasil pekerjaan dapat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sakura berharap kondisi pasokan material dan BBM segera kembali normal sehingga kebutuhan proyek dapat terpenuhi dan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target.

“Kami telah menandatangani pakta integritas dengan pemerintah daerah. Siap tidak siap, pekerjaan harus diselesaikan. Namun di sisi lain kami juga menghadapi kenaikan harga material, kelangkaan semen, dan sulitnya mendapatkan BBM. Itu menjadi tantangan yang harus kami hadapi sebagai rekanan,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *