Perkuat Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi, Lom Lom Suwondo Dorong Pondok Pesantren Al-Hidayah di Kutalimbaru-Deli Sedang, Kembangkan Budidaya Bawang Merah

Teks Foto : Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, SS didampingi Staf Ahli I TP PKK Kabupaten Deli Serdang, Ny. Asniar Lom Lom Suwondo saat menghadiri Penanaman Bawang Merah di Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (12/09/2026)/(Doks Foto/Istimewa/1kabar.com/Zulkarnain Lubis)

1kabar.com — Deli Serdang | Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, SS, mendorong Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang untuk mengembangkan budidaya bawang merah sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan dan pengendalian inflasi.

Dorongan tersebut disampaikan Lom Lom Suwondo saat mengawali penanaman bawang merah bersama Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, di kawasan Pondok Pesantren Al-Hidayah Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sabtu (12/09/2026).

Lom Lom Suwondo menyambut baik langkah pesantren yang turut memanfaatkan lahan produktif untuk mendukung ketahanan pangan. Ia menegaskan, pemerintah daerah terus mendorong agar lahan yang tersedia dapat diusahakan dan tidak dibiarkan terlantar.

“Kami mengarahkan dan menginstruksikan kepada camat agar semua lahan diusahakan. Tidak ada lagi tanah yang terlantar, walaupun sebatas menanam terong,” tegas Lom Lom Suwondo.

Menurut Lom Lom Suwondo, bawang merah dan cabai merupakan komoditas yang mendapat perhatian pemerintah karena berpengaruh terhadap inflasi. Pemerintah daerah, kata dia, secara rutin berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memantau perkembangan harga dan ketersediaan kedua komoditas tersebut.

Ia juga mengapresiasi Pondok Pesantren Al-Hidayah yang mengambil peran dalam mendukung program ketahanan pangan. Lahan pesantren yang saat ini sekitar lima hektare, kata Lom Lom, akan didorong untuk dikembangkan hingga mencapai 20 hektare.

“Mudah-mudahan dengan tangan dingin kita semua di sini bersama para ulama, bawang yang biasanya satu banding 10, siapa tahu disini bisa satu banding 20,” ujar Wabup.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Khairul Ghazali, mengatakan, pihaknya memiliki pengalaman dalam budidaya bawang merah. Saat pandemi Covid-19, pesantren pernah mengembangkan bawang merah dengan pendampingan Bank Indonesia dan memperoleh hasil yang baik.

“Dulu pada waktu Covid, saya pernah menanam bawang langsung di bawah binaan Bank Indonesia dan sukses. Kami menerapkan sistem yang dipandu para ahli pertanian bawang yang dihadirkan Bank Indonesia,” kata Khairul Ghazali.

Khairul Ghazali mengatakan, pengembangan bawang merah saat ini merupakan bentuk kontribusi pesantren dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus membantu menjaga stabilitas harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi.

Selain bawang merah, Pondok Pesantren Al-Hidayah juga mengembangkan tanaman aren sebagai tanaman konservasi sekaligus sumber pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ribuan pohon aren telah ditanam di kawasan pesantren dan hasilnya mulai diolah menjadi berbagai produk, seperti gula cetak, gula semut dan kolang-kaling.

“Kami berharap mendapat dukungan dari semua pihak, karena ini untuk anak-anak bangsa, untuk kemandirian pesantren dan masyarakat Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang,” ujar Khairul Ghazali.

Ketua Satgaswil Densus 88 Antiteror Polri, Kurnia Hadi, turut menyatakan dukungan terhadap program pemberdayaan yang dilakukan Pondok Pesantren Al-Hidayah. Menurutnya, pemberdayaan melalui ketahanan pangan sejalan dengan upaya pembinaan yang dilakukan Densus 88 terhadap mantan narapidana terorisme.

Ia berharap program pemberdayaan di pesantren tersebut dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, menilai pengembangan bawang merah di Pondok Pesantren Al-Hidayah merupakan langkah strategis untuk mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional.

Menurutnya, pencapaian kemandirian pangan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pesantren dan lembaga pendidikan, dalam memanfaatkan lahan yang tersedia.

“Kalau seandainya semua institusi pendidikan di luar binaan negara melakukan seperti yang dilakukan Pak Khairul Ghazali, memanfaatkan lahan yang ada untuk ketahanan pangan, saya pikir apa yang menjadi target pemerintah akan lebih cepat tercapai,” kata Sugiat Santoso.

Sugiat juga mendorong agar hasil pertanian tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Bawang merah hasil budidaya dapat dikembangkan menjadi produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah dan pendapatan.

“Jangan langsung dijual mentah. Kalau bisa dihilirisasi dengan bawang goreng yang packaging-nya keren, tentu nilainya jauh lebih mahal,” ujar Sugiat Santoso.

Selain bawang merah, Sugiat Santoso mengapresiasi pengembangan aren yang dilakukan Pondok Pesantren Al-Hidayah. Menurutnya, pengembangan komoditas pertanian sekaligus konservasi tersebut menunjukkan potensi pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Ia menyatakan siap mendorong kolaborasi dalam pengembangan Pondok Pesantren Al-Hidayah melalui kebijakan, dukungan anggaran, jaringan kelembagaan dan kerja sama dengan berbagai pihak.

“Kami berharap kehadiran kami di sini bisa bermanfaat bagi pesantren ini, baik dalam kerangka kebijakan, anggaran, jaringan maupun bentuk kolaborasi lainnya,” pungkasnya.

Hadir mendampingi Wakil Bupati Deli Serdang, Staf Ahli I TP PKK Kabupaten Deli Serdang, Ny. Asniar Lom Lom Suwondo, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Misran Sihaloho, serta Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang, Elinasari Nasution.(1kbr/nain40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *