Oleh: Chaidir Toweren
1kabar.com – – Musibah banjir dan longsor yang melanda Aceh beberapa waktu terakhir bukan hanya meninggalkan lumpur, reruntuhan, dan luka di hati masyarakat. Bencana itu juga memukul telak denyut ekonomi rakyat, khususnya di wilayah Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Dua daerah yang selama ini menjadi kebanggaan Aceh di sektor wisata, kini perlahan seperti kehilangan nyawa.
Takengon, kota dingin yang selama ini dikenal sebagai surga wisata dataran tinggi Gayo, mendadak berubah sunyi. Jalan-jalan yang biasanya dipadati kendaraan wisatawan kini tampak lengang. Aroma kopi Gayo yang dahulu menemani hiruk-pikuk pengunjung di warung-warung pinggir Danau Lut Tawar, kini hanya tersisa dalam kesunyian.
Padahal sebelum bencana datang, Aceh Tengah dan Bener Meriah merupakan destinasi favorit masyarakat. Bukan hanya warga Aceh, wisatawan dari Sumatera Utara, Riau hingga Sumatera Barat rela menempuh perjalanan panjang demi menikmati keindahan alam Takengon.
Setiap akhir pekan, kota ini nyaris tak pernah tidur. Hotel, homestay, cafe, hingga pelaku UMKM menikmati berkah ekonomi dari ramainya kunjungan wisata.
Menjelang hari-hari besar seperti Lebaran, hampir mustahil menemukan kamar kosong di Takengon. Ribuan kendaraan memenuhi jalanan kota. Danau Lut Tawar menjadi magnet wisata yang menghadirkan kehidupan bagi masyarakat kecil.
Namun semuanya berubah dalam hitungan hari.
Enam jembatan di lintasan jalan provinsi jalur Bireuen–Bener Meriah–Takengon putus akibat diterjang banjir dan longsor. Jalur alternatif dari Simpang KKA yang diharapkan menjadi solusi pun ikut terdampak parah. Praktis, akses menuju Aceh Tengah lumpuh total.
Yang terputus bukan hanya jembatan.
Tetapi juga harapan pedagang kecil untuk mendapatkan pembeli. Harapan sopir travel mencari penumpang. Harapan pemilik homestay untuk menyambung hidup. Bahkan harapan masyarakat kecil yang menggantungkan ekonomi dari sektor wisata.
Kini Takengon seperti kembali ke masa lalu. Sunyi. Sepi. Lesu.
Pemandangan yang biasanya dipenuhi wisatawan berubah menjadi jalan-jalan kosong tanpa gairah. Cafe yang dahulu ramai kini hanya dihuni kursi-kursi kosong. Pedagang kaki lima mulai mengeluh karena omzet turun drastis. Banyak masyarakat hanya mampu memandang jalan sambil berharap kendaraan wisata kembali berdatangan.
Ironisnya, kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Jika akses jalan terus dibiarkan rusak dan lambat diperbaiki, maka bukan hanya sektor wisata yang hancur, tetapi juga ekonomi ribuan masyarakat kecil di dataran tinggi Gayo.
Pemerintah harus sadar bahwa Takengon bukan sekadar kota kecil di pegunungan. Takengon adalah wajah pariwisata Aceh. Takengon adalah urat nadi ekonomi masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah. Ketika akses menuju daerah ini lumpuh, maka yang lumpuh sebenarnya adalah kehidupan masyarakatnya.
Perbaikan jalan dan jembatan tidak boleh berjalan lamban dengan alasan administrasi dan birokrasi. Rakyat tidak bisa menunggu terlalu lama. Setiap hari keterlambatan adalah kerugian besar bagi masyarakat.
Hari ini masyarakat hanya ingin satu hal, akses segera dibenahi , jalan diperbaiki, dan Takengon kembali hidup.
Karena jika kondisi ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin kota wisata kebanggaan Aceh itu perlahan hanya tinggal cerita.












