Anggaran Dinkes Aceh Tengah Rp130 Miliar, Fokus Cegah Stunting dan Perluas CKG

Aceh Tengah-1kabar.com

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tengah menetapkan pencegahan penyakit, peningkatan akses pelayanan kesehatan, serta penurunan stunting dan penyakit menular sebagai fokus utama program kesehatan tahun 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tengah, Mitahuddin, SKM., M.A.P., mengatakan arah kebijakan kesehatan saat ini tidak hanya berorientasi pada pengobatan ketika masyarakat sudah sakit, tetapi lebih menekankan upaya pencegahan dan deteksi dini.

Hal itu disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (21/8/2026).
“Yang paling penting dari segi pencegahannya. Ketika sudah sakit kita memang melakukan pengobatan, tetapi kita mencegah dulu,” kata Mitahuddin.
Menurutnya, salah satu program yang terus didorong adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas. Program tersebut dinilai penting karena memungkinkan masyarakat mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, termasuk potensi penyakit yang belum menimbulkan gejala.

Dinkes Aceh Tengah menargetkan cakupan CKG mencapai sekitar 46 persen masyarakat. Hasil pemeriksaan nantinya dapat menjadi rekam medis yang membantu masyarakat mengetahui riwayat kesehatannya.

“Cek kesehatan itu orang sehat yang kita periksa. Mereka bisa mengetahui penyakit secara mendasar dan riwayat penyakitnya. Jadi mencegah itu lebih baik daripada mengobati,” ujarnya.

Mitahuddin mengatakan, masyarakat nantinya dapat memperoleh gambaran kondisi kesehatan melalui hasil pemeriksaan, termasuk kategori risiko yang digambarkan dalam rapor kesehatan.

Untuk memperluas akses pelayanan, Dinkes Aceh Tengah mengandalkan jejaring fasilitas kesehatan yang tersebar hingga tingkat kampung.

Saat ini terdapat 17 puskesmas di 14 kecamatan, 54 puskesmas pembantu (pustu) dan 253 polindes.

Menurut Mitahuddin, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan memperpendek jarak masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar sebelum mendapatkan penanganan lanjutan atau rujukan ke rumah sakit.

Selain pelayanan medis, Dinkes juga memperkuat promosi kesehatan, edukasi masyarakat, pelayanan posyandu, serta pembinaan kesehatan ibu, bayi dan anak.

“Puskesmas sudah melakukan screening bagi masyarakat. Kemudian meningkatkan edukasi tentang kesehatan melalui promosi kesehatan, termasuk penanganan anak usia dini, pembinaan ibu hamil dan ibu bersalin,” katanya.

Terkait ketersediaan obat, Mitahuddin memastikan kebutuhan pelayanan rutin di puskesmas tetap menjadi perhatian. Menurutnya, dukungan obat juga tersedia melalui pemerintah provinsi dan pusat apabila terjadi kondisi darurat, termasuk bencana.

“Untuk obat kita standby. Kalau terjadi bencana atau keadaan darurat, kita masih punya stok obat di provinsi maupun pusat,” ujarnya.

Sementara itu, dalam upaya menekan stunting, Dinkes menaruh perhatian pada kelompok remaja yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Pembinaan dilakukan sebelum pernikahan, terutama terkait kesiapan kesehatan, gizi, pangan, kehamilan, persalinan hingga pola asuh anak.

“Persiapan gizi dan pangan harus dibimbing. Mereka harus memahami pola asuh terhadap anak nantinya, kesiapan melahirkan, kesiapan hamil dan pola asuh anak yang memenuhi standar kesehatan,” kata Mitahuddin.

Selain stunting, Dinkes Aceh Tengah juga menargetkan penurunan penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), HIV, malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

Mitahuddin menyebut kasus DBD di Aceh Tengah mengalami penurunan. Jika sebelumnya mencapai sekitar 150 kasus, pada 2026 pihaknya mencatat jumlah kasus yang jauh lebih rendah, yakni sekitar dua kasus.

Namun, beliu menegaskan pengendalian penyakit menular tetap menjadi pekerjaan penting, termasuk melalui imunisasi, screening dan pemantauan kesehatan masyarakat.

“Bidang utamanya adalah imunisasi dan penurunan penyakit menular seperti TBC, HIV, malaria, DBD dan lainnya,” ujarnya.

Anggaran Kesehatan Sekitar Rp130 Miliar
Untuk mendukung seluruh program tersebut, Dinkes Aceh Tengah mengelola anggaran sekitar Rp130 miliar, termasuk belanja pegawai dan dukungan dana alokasi khusus (DAK).

Menurut Mitahuddin, dukungan anggaran tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan hingga tingkat desa, termasuk peningkatan pelayanan bidan desa dan posyandu.

“Anggaran seluruhnya termasuk gaji sekitar Rp130 miliar. Itu termasuk dana bantuan alokasi khusus untuk membantu pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa,” katanya.

Tiga Target Utama
Mitahuddin menegaskan, terdapat tiga sasaran yang menjadi perhatian utama Dinkes Aceh Tengah pada 2026, yakni menurunkan angka stunting, meningkatkan cakupan Cek Kesehatan Gratis, serta menekan angka kematian ibu dan anak.

Di sisi lain, pengendalian penyakit menular, khususnya TBC, juga menjadi bagian penting dari target kesehatan daerah.

“Target kita adalah penurunan stunting, peningkatan cek pelayanan gratis dan penurunan angka kematian ibu dan anak. Itu yang sangat berkaitan dengan pencegahan. Untuk penyakit menular juga kita targetkan penurunan angka TBC,” pungkasnya.

Dengan berbagai program tersebut, tantangan Dinkes Aceh Tengah bukan hanya memastikan fasilitas dan tenaga kesehatan tersedia, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar pemeriksaan kesehatan dilakukan sebelum penyakit berkembang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *