DENPASAR |1kabar.com Sebanyak 91 pelaut dari kapal wisata dan pelayaran rakyat di Bali mengikuti Pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Mualim Pelayaran Rakyat serta Juru Motor Pelayaran Rakyat yang digelar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Benoa, Senin 3 Agustus 2026 di Puri Nusa Indah Hotel, Jalan Waribang No. 99 Denpasar.
Kegiatan selama 5 hari, 3 sampai 7 Agustus 2026 ini merupakan gelombang pertama dari total 180 pendaftar. Untuk gelombang pertama, peserta MPR berjumlah 61 orang dan peserta JMPR sebanyak 30 orang.
Kepala KSOP Kelas II Benoa, Aprianus Hangki, menyampaikan pelatihan ini dilaksanakan menindaklanjuti regulasi terbaru di sektor pelayaran. Landasan hukumnya adalah UU Nomor 66 Tahun 2024 tentang Perubahan UU Pelayaran, SK Dirjen Hubla Nomor KP-DJPL 34 Tahun 2025 terkait pedoman pendidikan, pelatihan dan penerbitan sertifikat MPR/JMPR, serta Surat Ditkapel Nomor AL.526/2/13/DK/2026 tanggal 23 Mei 2026 tentang perpanjangan kewenangan penerbitan sertifikat di KSOP Benoa.
“Intinya kami ingin meningkatkan kompetensi, wawasan keselamatan, keamanan dan perlindungan pelayaran bagi para peserta. Harapannya muncul SDM pelaut yang profesional dan sesuai standar,” kata Aprianus.
Dalam pelatihan ini peserta dibekali materi peraturan pelayaran, keselamatan, navigasi dasar, pengoperasian mesin kapal, pencegahan pencemaran laut, hingga uraian tugas dan tanggung jawab MPR dan JMPR. Proses belajar tidak hanya teori, tetapi juga praktik dan uji kompetensi. Tenaga pengajarnya berasal dari unsur pemerintah, akademisi dan praktisi pelayaran.
Aprianus juga menjelaskan adanya perubahan sistem sertifikasi. Sertifikat Keterampilan Kapal atau SKK yang sebelumnya khusus untuk nelayan kini tidak berlaku lagi. Posisi SKK digantikan oleh sertifikat MPR dan JMPR dengan cakupan lebih luas, mencakup nelayan, pelayaran rakyat, sampai kapal wisata, dengan tetap memperhatikan batasan ukuran kapal.
Selain itu, pengalihan kewenangan angkutan penyeberangan dari Ditjen Perhubungan Darat ke Ditjen Perhubungan Laut juga masuk dalam ruang lingkup sertifikasi MPR dan JMPR.
“Kami berharap seluruh pelaut pelayaran rakyat di Bali bisa mengikuti pelatihan ini dan tersertifikasi,” ujarnya.
Menyikapi karakteristik perairan Bali, Aprianus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap informasi cuaca. Gelombang tinggi dan arus kuat di perairan Bali menuntut pelaut untuk selalu mengikuti imbauan BMKG dan KSOP.
“Secara keterampilan mengemudi mereka sudah mumpuni. Dengan tambahan materi keselamatan ini, kita harapkan risiko kecelakaan bisa ditekan. Nanti akan kita evaluasi setiap tahun, apakah angka kecelakaan kapal mengalami penurunan,” pungkasnya.
Melalui pelatihan ini KSOP Benoa menargetkan lahirnya pelaut pelayaran rakyat yang kompeten dan siap bersaing, sekaligus mendukung upaya pemerintah memperkuat transportasi laut nasional serta menjamin kelancaran dan keselamatan pelayaran di Indonesia.(van)












